Balikpapan (ANTARA) -
Bank Indonesia Balikpapan mulai mengenalkan layanan QRIS Tanpa Pindai alias QRIS Tap sebagai cara pembayaran kepada masyarakat. Sesuai nama layanannya, pengguna yang ingin membayar barang atau jasa cukup mendekatkan ponselnya ke terminal pembayaran milik toko atau penjual.
QRIS Tap merupakan layanan pembayaran digital berbasis teknologi Near Field Communication (NFC). Berbeda dari metode QRIS konvensional yang mengharuskan pemindaian barcode, QRIS Tap memungkinkan transaksi dilakukan tanpa membuka aplikasi, cukup dengan menempelkan ponsel ke mesin pembaca.
“QRIS Tap ini membuat transaksi lebih cepat, mudah, murah, aman, dan handal,” ujar Kepala Kantor Perwakilan BI Balikpapan Robi Ariadi, Minggu.
Layanan ini diharapkan dapat memperluas ekosistem pembayaran digital, khususnya bagi pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) yang selama ini menghadapi tantangan dalam adopsi teknologi. Dengan QRIS Tap, UMKM dapat melayani transaksi secara efisien, bahkan di lokasi dengan koneksi internet terbatas.
Kegiatan promosi produk dan layanan Mahligai Nusantara 2025 yang berlangsung pada 27–28 September di Mal Pentacity, Balikpapan, menjadi momentum awal pengenalan QRIS Tap kepada publik. Di ajang ini ditampilkan produk unggulan dari UMKM Balikpapan, Penajam Paser Utara (PPU), dan Paser. Kegiatan ini juga menjadi ruang edukasi digitalisasi transaksi bagi pelaku usaha lokal.
“QRIS Tap tidak cuma layanan pembayaran. Ini adalah jalan bagi transformasi ekonomi daerah. Kami ingin UMKM naik kelas, masuk ekosistem digital, sembari tetap menjaga identitas lokal,” kata Robi.
Wakil Wali Kota Balikpapan Bagus Susetyo turut menyampaikan dukungan terhadap langkah BI. Ia menekankan pentingnya sinergi lintas sektor dalam mendorong UMKM yang adaptif, berkelanjutan, dan mampu bersaing di pasar nasional maupun internasional.
“Kegiatan Mahligai Nusantara 2025 ini adalah wujud nyata dari sinergi tersebut,” ucapnya.
Ia menambahkan, sebagai kota yang terus tumbuh, Balikpapan punya tanggung jawab besar menjaga stabilitas ekonomi, sekaligus mencetak UMKM yang mampu bersaing secara global. Selain naik kelas, kata dia, UMKM juga harus berkembang dengan prinsip ekonomi hijau dan berkelanjutan.
“Dunia kini mengarah pada ekonomi ramah lingkungan. Oleh karena itu, kita dorong UMKM untuk mengadopsi praktik produksi yang berkelanjutan, memanfaatkan teknologi digital, serta menjaga kearifan lokal,” tambahnya.
