Balikpapan (ANTARA) - Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian menyatakan Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) berperan strategis dalam pengembangan sektor kerajinan yang menjadi bagian penting dari Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
“Masih banyak yang belum memahami apa itu Dekranas. Padahal, produk kerajinan adalah bagian dari UMKM. UMKM itu memiliki kontribusi besar, bukan hanya untuk Indonesia, tapi juga secara global,” ujar Tito dalam sambutan penutupan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-45 Dekranas di BSCC Dome Balikpapan, Jumat (11/7).
Ia mengemukakan peran UMKM sangat terasa saat pandemi COVID-19 melanda dunia pada 2020. Saat itu, ekonomi global mengalami kontraksi parah, dan hampir seluruh daerah di Indonesia mengalami pertumbuhan negatif.
Namun, kata Tito, ada empat provinsi yang mampu mencatat pertumbuhan ekonomi positif yaitu Maluku Utara, Sulawesi Tengah, Papua, dan Daerah Istimewa Yogyakarta.
“Bali justru yang paling terdampak, minus 9 persen karena sangat bergantung pada pariwisata. Tapi kenapa Yogyakarta bisa selamat, padahal tidak punya tambang atau industri besar,” kata Tito.
Dia menjelaskan bahwa setelah menelusuri langsung ke Yogyakarta dan berdialog dengan Gubernur DIY Sri Sultan HB X, ditemukan bahwa kekuatan utama daerah tersebut terletak pada UMKM.
Pemerintah daerah memberikan dukungan penuh melalui insentif, akses pembiayaan, pelatihan, serta promosi melalui berbagai festival.
“UMKM di Yogyakarta sangat hidup. Karena itu mereka bisa bertahan, bahkan tumbuh. Ini membuktikan bahwa UMKM adalah tulang punggung sektor riil, menyerap tenaga kerja, dan memutar roda ekonomi lokal, bahkan dalam situasi sesulit pandemi,” ujarnya.
Mendagri mengingatkan bahwa sektor kerajinan, sebagai bagian dari UMKM, memiliki potensi pasar global yang sangat besar.
“Potensi pasar dunia untuk kerajinan itu hampir Rp360 triliun. Tapi kita belum menjadi pemain utama,” tegasnya.
Ia menjelaskan bahwa saat ini lima negara teratas yang menguasai pasar kerajinan dunia adalah India, Tiongkok, Vietnam, Thailand, dan Indonesia.
Namun, jika dilihat dari sisi ekspor, Indonesia bahkan belum masuk dalam sepuluh besar negara pengekspor produk kerajinan terbesar.
“Nomor satu tetap India dengan ekspor senilai Rp135 triliun. Lalu Vietnam, Filipina, Bangladesh, Pakistan, Meksiko, Ekuador, Armenia, Rusia, dan Sri Lanka. Indonesia tidak termasuk. Ini tantangan bagi kita,” ucap Tito.
Menurutnya, India unggul karena kerajinan sudah menjadi warisan budaya turun-temurun. Tiongkok kuat karena kemampuan produksi massal. Vietnam sedang tumbuh pesat dengan kerajinan tradisional, sementara Thailand dikenal dengan produk kerajinan yang estetis dan eksotik.
“Indonesia punya kerajinan paling beragam. Tapi kita belum dikenal sebagai eksportir utama atau pusat pameran dunia,” katanya.
Ia mencontohkan beberapa ajang kerajinan yang dikenal dunia, seperti Sunday Walking Street dan Adang Home Studio di Thailand, Florence di Italia, serta pusat-pusat pameran di Hong Kong. Indonesia belum memiliki ajang serupa yang diakui dunia internasional.
“Ini menjadi tantangan bagi Dekranas ke depan, bagaimana membawa kerajinan Indonesia naik kelas dan dikenal secara global,” ujarnya.
Tito juga merinci jenis produk kerajinan yang saat ini paling populer di pasar dunia, antara lain dekorasi rumah, perhiasan, lilin, hiasan dinding, keranjang, tenun tangan, kerajinan kayu, kulit, sulaman, dan tembikar.
Ia menyoroti keberhasilan Vietnam yang kini dikenal dengan produk leckerware, yaitu botol atau wadah rumah tangga yang dilapisi bahan khusus tahan air dan dihias sehingga bisa menjadi pajangan bernilai estetika tinggi.
“Dunia sudah bergerak cepat. Kalau kita tidak ikut, kita akan tertinggal. Kita tidak kekurangan kreativitas, tapi perlu keberanian dan dukungan kuat dari seluruh pihak,” katanya.
