Balikpapan (ANTARA) - Warga Desa Giri Mukti, Kabupaten Penajam Paser Utara, sukses memanfaatkan lahan tidur menjadi lahan produktif. Kini Giri Mukti berkembang menjadi salah satu sentra pangan lokal di wilayah penyangga Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara.
“Sejak 2022, kami mengembangkan pertanian hortikultura dan dikerjakan kelompok tani,” kata Kepala Desa Giri Mukti, Hendro Jatmiko, Selasa.
Program pertanian hortikultura itu dinamakan KENARI (Ketahanan Pangan Girimukti). Kelompok-kelompok tani di Giri Mukti mendapat pendampingan dari PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) Unit Balikpapan. Lahan yang sebelumnya terbengkalai kini ditanami cabai, tomat, melon, dan jagung. Limbah dapur dan pasar diolah menjadi pupuk organik menggunakan mesin pencacah sederhana yang disediakan dalam program.
“Dulu lahan ini kosong, selain bisa ditanami cabai, tomat, melon, dan jagung, juga ada sayuran lain. Untuk pupuknya kami buat sendiri dari limbah dapur dan pasar,” kata Purwanto, anggota Kelompok Tani Kenari, mengikuti nama programnya.
Melon menjadi hasil panen unggulan yang dipetik secara massal pada akhir Juni 2025 oleh Kelompok Tani Kenari. Panen ini pun menjadi simbol keberhasilan pemanfaatan lahan tidur yang sebelumnya tidak tergarap.
Sementara itu, Kelompok Tani Sawit Lestari mengelola sekitar 10 hektare lahan jagung dengan hasil panen rata-rata mencapai 5,5 ton per hektare. Jagung yang dihasilkan dijual ke pasar lokal dengan harga sekitar Rp5 juta per ton.
Sebagian besar hasil panen dari Giri Mukti diserap oleh pasar Balikpapan dan Penajam, terutama untuk kebutuhan rumah tangga dan warung makan. Beberapa kelompok kini mulai menjajaki kerja sama distribusi yang lebih luas.

Selain produksi pangan, program ini juga mencakup pelatihan pengemasan, pemasaran hasil panen, serta pengolahan pakan ternak fermentasi. Hasil panen dijual ke pasar di Balikpapan dan Penajam, sebagian besar untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga dan warung makan.
Kepala Desa Hendro Jatmiko menyebut program ini sebagai titik balik bagi warganya. “Dulu banyak yang ragu bertani karena hasilnya tidak pasti. Sekarang mereka lihat sendiri, ada hasil, ada pasar,” kata Hendro.
Bagi KPI, Program KENARI menghantarkan penghargaan Nusantara CSR Award 2025. Perusahaan pun menekankan bahwa capaian ini bukan tujuan akhir.
“Yang lebih penting adalah bagaimana program ini bisa bertahan dan terus berkembang,” kata Humas PT KPI Unit Balikpapan, Dodi Yapsenang.
