Penajam Paser Utara (ANTARA) - Dana hibah lebih kurang 2,49 juta dolar Amerika Serikat (AS) memperkuat proyek kota cerdas Ibu Kota Nusantara (IKN) di sebagian wilayah Kabupaten Penajam Paser Utara dan Kabupaten Kutai Kartanegara, Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim).
"Transformasi digital fondasi utama pembangunan ibu kota negara baru Indonesia," ujar Kepala Otorita IKN, Basuki Hadimuljono di Penajam Paser Utara, Jumat.
Otorita IKN menjalin kontrak kerja sama dengan Pemerintah Amerika Serikat terkait asistensi teknis solusi kota cerdas guna memperkuat perencanaan cetak biru kota cerdas IKN.
Perencanaan Kota Cerdas ibu kota negara baru Indonesia yang terintegrasi siap investasi dan implementatif untuk mempercepat transformasi IKN sebagai kota cerdas, berkelanjutan, serta menarik bagi investor global sebesar 2,49 juta dolar AS.
Dana proyek tersebut bersumber dari hibah lembaga independen Pemerintah Amerika Serikat (United State Trade and Development Agency/USTDA) untuk mendorong pembangunan ekonomi di negara berkembang sekaligus memperkuat kemitraan perdagangan dan investasi.
Dukungan dana hibah Pemerintah Amerika Serikat merupakan kepercayaan internasional terhadap pembangunan IKN sebagai kota masa depan berbasis teknologi dan keberlanjutan.
Otorita IKN memastikan ibu kota negara baru Indonesia tidak hanya dibangun secara fisik, tetapi juga dirancang dengan sistem digital yang matang, aman, dan berorientasi masa depan melalui hibah USTDA dan kolaborasi lintas sektor.
Baca juga: Investasi swasta ke IKN Rp72 triliun hingga awal 2026
"IKN harus menjadi kota yang hijau, berkelanjutan dan secara fundamental cerdas,” kata Basuki Hadimuljono.
Kegiatan melibatkan konsorsium dari Eficens Systems Inc sebagai pelaksana teknis, bersama Frost & Sullivan (USA & Indonesia), ASECH Indonesia Center of Excellence on Smart City, Mirekel serta PT Searce Technologies Indonesia (Partner Google Cloud Platform).
Asistensi teknis untuk menyusun dokumen sejumlah komponen strategis dan teknis yang dirancang memastikan implementasi kota cerdas IKN berjalan terstruktur, transparan, serta selaras dengan prinsip Environmental, Social, and Governance/ESG.
Menurut anggota dewan Frost & Sullivan Amerika sekaligus direktur proyek, Subhranshu Sekhar, IKN memiliki peluang lebih dari sekadar kota cerdas, yang dapat berevolusi menjadi kota kognitif.
Seiring transformasi industri pengetahuan global, kota harus beralih dari infrastruktur digital statis menuju sistem kecerdasan yang adaptif, dan ibu kota negara baru Indonesia berpotensi menjadi model rujukan bagi global paradigma perkotaan berbasis kecerdasan.
"Cetak biru yang dihasilkan diharapkan menjadi landasan implementasi kota cerdas yang konkret sekaligus model percontohan bagi pengembangan kota cerdas di Indonesia dan dunia," kata Subhranshu Sekhar.
Baca juga: DKP Kaltim genjot hilirisasi produk kelautan ke pasar global dan IKN
