Samarinda (Antara) - Dinas Perhubungan Kota Samarinda, Kalimantan Timur, segera menambah "Advanced Train Control Systems" (ATCS) untuk memantau kemacetan lalu lintas di daerah itu.
"Saat ini, ATCS sudah terpasang di 19 titik dan pada 2013 akan dipasang lagi tujuh titik di sejumlah lokasi untuk memantau pergerakan kendaraan dan aktivitas sosial yang terjadi di lapangan," kata Kepala Dinas Perhubungan Kota Samarinda Abdullah di Samarinda, Senin.
ATCS itu dipasang di sejumlah titik rawan kemacetan dan pusat kota Samarinda untuk memantau segala aktivitas, termasuk memonitor banjir yang kerap melanda jalan protokol di daerah itu.
Sementara, Wali Kota Samarinda Sjaharie Jaang saat memantau arus lalu lintas melalui ATCS mengakui, pentingnya alat itu untuk memonitor berbagai aktivitas masyarakat di jalan maupun memantau kemungkinan terjadinya gangguan kamtibmas.
Bahkan, Syaharie Jaang sempat menyampaikan pesan melalui pengeras suara yang terpasang pada ATCS kepada para pengendara kendaraan bermotor roda empat dan roda dua yang melalui Simpang Empat Air Hitam dan Simpang Tiga Jalan Meranti.
"Selamat siang para pengendara kendaraan bermotor sekalian. Harap anda mematuhi aturan berlalu lintas yang berlaku. Jangan lupa menggunakan helm dan mengancingkan pengaitnya hingga berbunyi "klik" dan jangan lupa gunakan sabuk pengaman bagi pengendara roda empat. Semoga anda sekalian selamat sampai tujuan," kata Syaharie Jaang melalui pengeras suara ATCS.
Kemacetan arus lalu lintas di Kota Samarinda menurut Syaharie Jaang saat ini semakin padat, terutama pada pagi dan sore hari.
Hal itu lanjut dia menjadi salah satu indikator baiknya tingkat kesejahteraan masyarakat yang memiliki daya beli kendaraan tinggi.
"Tentunya pemerintah tidak bisa melarang orang membeli kendaraan. Namun yang paling penting adalah pengaturan dan manajemen rekayasa lalu-lintas agar kendaraan tidak bertumpuk pada satu titik sehingga menciptakan kemacetan panjang," ungkap Syaharie Jaang.
Selain berguna memantau kemacetan ATCS itu juga katad dia dapat memantau titik rawan banjir disaat hujan dan juga untuk memantau jika ditemukan anak-anak yang `ngelem` terutama di kawasan sepanjang Tepian Mahakam.
"Nantinya, petugas harus mengawasi titik mana yang banjir kemudian diumumkan kepada masyarakat agar menghindari jalan itu kemudian memberikan jalur alternatif. ATCS ini juga dapat berfungsi memantau titik di sepanjang Tepian Mahakam dan jika ada anak-anak yang terpantau `ngelem` langsung berkoordinasi ke Satpol PP untuk ditindak," kata Syaharie Jaang. (*)