Kondisi SDN 009 di Perbatasan Memprihatinkan

Nunukan (ANTARA News Kaltim) - Kondisi Sekolah Dasar Negeri (SDN) 009 di wilayah perbatasan antara Indonesia-Malaysia sangat memprihatinkan dan memerlukan perbaikan. (M Rusman/ANTARA News Kaltim)

Berita Terkait
Nunukan  (ANTARA News Kaltim) - Kondisi Sekolah Dasar Negeri (SDN) 009 di wilayah perbatasan antara Indonesia-Malaysia sangat memprihatinkan dan memerlukan perbaikan.

Berdasarkan pantauan di lokasi, Senin, bangunan SD Negeri 009 di Kampung Lordes Dusun Perjoko, Desa Sei Limau, Kecamatan Sebatik Tengah, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Timur, terbuat dari kayu.

"Bangunan ini memiliki satu gedung dengan tiga ruang kelas," kata seorang guru SDN 009 Lordes, Andreas Baha, di Lordes, Nunukan.

Selain bangunannya yang tidak memadai layaknya sebagai pelayanan pendidikan, katanya, sekolah itu juga fasilitas penunjang lainnya seperti bangku dan meja murid yang tidak sesuai dengan jumlah siswa.

Sehingga setiap proses belajar mengajar (PBM) banyak muridnya yang tidak duduk.

"Kalau belajar terpaksa banyak murid yang berdiri atau satu bangku ditempati tiga orang," katanya.

Menurut Andreas, sejak mengabdi sebagai guru honorer sejak sembilan tahun lalu, sekolah yang letaknya tak jauh dari tapal batas Indonesia-Malaysia ini dibangun tahun 2003 tidak pernah mendapatkan bantuan dari pemerintah pusat maupun Pemerintah Kabupaten Nunukan.

Padahal, sekolah ini memiliki enam kelas dengan jumlah murid sebanyak 176 orang dan sudah enam kali menamatkan. Murid yang belajar di SD Negeri 009 Kampung Lordes ini, semuanya berasal dari kalangan masyarakat petani.

Dia menambahkan, sudah beberapa mengajukan permohonan bantuan kepada pemkab Nunukan, namun tidak pernah permohonan itu dikabulkan. Baik dana dari biaya operasional sekolah (BOS) maupun dana alokasi khusus (DAK).

Oleh karena itu, sekolah ini sampai sekarang kebutuhan buku-buku pelajaran terpaksa difotocopi. Termasuk tidak memiliki buku pegangan guru dan laboratorium.

Guna mengantisipasi keterlambatan pelajaran bagi murid-murid di sekolah ini, PBM dilakukan pagi dan sore. Akibat ruang kelas dan sarana belajar seperti buku pelajaran yang tidak mencukupi.

"Jangankan laboratorium, buku-buku pelajaran saja sangat kurang atau bahkan dikatakan tidak ada. Termasuk buku pegangan guru harus beli sendiri," keluh Andreas.  (*)

Editor: Arief Mujayatno
COPYRIGHT © 2014

Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antarakaltim.com

Komentar Pembaca
Kirim Komentar