"Pelestarian Hutan Wehea bukan saja penting karena memiliki bio diversity (keanekaragaman hayati) yang luar biasa namun juga menjadi strategis karena penyangga tiga sub DAS di daerah ini," kata Kepala Dinas Lingkungan Hidup (LH) Kutai Timur Didi Riyadi di Sangata, Sabtu.
Kawasan Hutan Wehea terletak di Kecamatan Muara Wahau, Kabupaten Kutai Timur, yakni 450 km dari Kota Samarinda, ibukota Kalimantan Timur, 275 km dari Sengata ibukota Kabupaten Kutai Timur.
Secara ekologis, Hutan Lindung Wehea menjadi penyangga tiga sub DAS masing-masing Sungai Sub-Das Seleq, Sungai Sub-DAS Melinyiu dan Sungai Sub-DAS Sekung. Tiga Sub Sungai itu yang bermuara sungai Mahakam,"
Menurut Didi Riyadi, tingkat kelerengan Hutan Lindung Wehea mencapai 68 persen, yang berarti masuk kategori sangat curam.
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kutai Timur sejak 2003 sampai 2006 bekerja sama dengan lembaga swadaya masyarakat The Nature Conservancy (TNC) mengadakan penelitian kekayaan hutan Wehea.
Dari penelitian TNC, di Wehea ada 12 hewan pengerat, 9 jenis primata, 19 jenis mamalia, 114 jenis burung, dan 59 jenis pohon bernilai. Masih ada 760 ekor lebih orangutan. Kekayaan flora yang terungkap baru 12.000 hektar. Saat ini dilakukan penelitian oleh peneliti dari Indonesia, Jepang, dan Amerika Serikat.
Berbeda dengan kawasan konservasi lingkungan yang lain di Kaltim, maka kelestarian kawasan hutan lindung itu karena keperdulian tinggi Dayak Wehea dalam menjaga lingkungannya.
Warga Dayak Wehea melalui lembaga adatnya telah mengeluarkan berbagai keputusan penting di dalam menjaga kelestarian kawasan itu.
Misalnya membentuk "Kelompok Pelindung Hutan" terdiri dari puluhan warga Dayak Wehea yang bertugas mengamankan kawasan itu dari berbagai kerusakan baik dari akfitas illegal logging maupun bencana kebakaran hutan dan lahan.
Kearifan lokal masyarakat dalam menjaga kelestarian itu ternyata mendapat sorotan internasional, terbukti merebut juara III (tiga) dalam penghargaan "Schooner Prize Award 2008" di Vancouver, Kanada.
Penghargaan berhadiah 1.000 dollar Amerika Serikat itu sebagai bentuk pengakuan bahwa model pengelolaan konservasi hutan Wehea dinilai sangat adaptif dan sesuai perkembangan zaman sehingga menduduki peringkat hutan terbaik ketiga di dunia.
Dalam event tersebut empat juri, Konrad Von Ritter dari Bank Dunia (Word Bank), Stefan Nachuk dari Rockefeller Foundation, Randy Curtis dari TNC, dan Cynthia Ryan dari Schooner Foundation, menetapkan Taman Laut Masyarakat Arnavon di Pulau Solomon meraih juara I.
Kemudian juri menempatkan proyek II Bolivia Forest di Bolivia juara II dan pengelolaan Hutan Wehea juara III serta juara IV adalah pengelolaan hutan berkelanjutan oleh Suku Maya (Meksiko).
Hutan itu sebelumnya adalah eks-hutan ekploitasi perusahaan HPH (hak pengusahaan hutan) PT Gruti III. Pada 1995 digabung dengan PT Inhutani II menjadi PT Loka Dwihutani. Tahun 2003, hutan dievaluasi Pemprov Kaltim dan kondisinya dinilai masih baik.
Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono juga memberikan penghargaan bagi kearifan lokal warga Dayak Wehea itu pada 5 Juni 2009 dengan menganugerahkan trofi Kalpataru.
Trofi itu kini tersimpan rapi pada salah satu ruang di rumah Kepala Adat Wehea merupakan bentuk penghargaan pemerintah pada 2009 kepada warga setempat yang diwaliki Ledjie Taq.
Editor : Iskandar Zulkarnaen
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.