Samarinda (ANTARA) - Tim gabungan yang terdiri atas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) bersama TNI, Polri, serta barisan relawan pemadam kebakaran mengendalikan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) seluas 20,5 hektare di kawasan Betapus, Kota Samarinda, Kalimantan Timur, Senin.
Kepala BPBD Samarinda Suwarso menyampaikan bahwa operasi pemadaman tersebut berlangsung intensif selama dua hari, yakni sejak Sabtu sore hingga Minggu malam.
"Bersyukurnya kita teman-teman relawan pemadam kebakaran mengepung dari beberapa sisi, sehingga sekitar pukul 21.00 WITA api selesai dipadamkan," ujar Suwarso.
Ia memastikan saat ini tidak ada lagi titik api yang menyala, meski tim di lapangan terus melakukan patroli pemantauan guna mencegah potensi munculnya bara api baru.
Proses pemadaman di Betapus dihadapkan pada sejumlah tantangan, seperti titik api yang jauh dari jalan utama sehingga kendaraan pemadam tidak bisa mendekat secara langsung.
Selain itu, ketersediaan air yang sangat terbatas, kencangnya embusan angin, serta vegetasi belukar yang mengering hingga ke bagian bawah tanah turut mempercepat perambatan api.
"Kami menggunakan sistem tunda dengan menyambung lebih dari 12 rol selang untuk mengambil pasokan air dari sisi Sungai Karangmumus di kawasan Bengkuring," paparnya.
Berkat strategi pencegatan yang taktis, tim gabungan sukses memblokade kobaran api agar tidak merembet ke kawasan permukiman warga yang berjarak hanya sekitar 50 hingga 100 meter dari titik api.
Untuk mempercepat pemadaman karhutla yang totalnya telah mencapai 176 kejadian di Samarinda, Suwarso terus berkoordinasi secara intensif dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk operasi pengerahan helikopter water bombing (bom air).
Helikopter tersebut saat ini dilaporkan telah bersiaga di Bandara APT Pranoto dan segera dieksekusi.
"Jika memungkinkan, lahan pertanian bisa ikut dilakukan water bombing untuk mempercepat proses pengembalian fungsi sawah agar tanah hidup kembali, sehingga petani juga bisa merasakan manfaatnya," tambah Suwarso.
Sebagai langkah antisipatif pelindungan masyarakat dari paparan asap, BPBD Samarinda bersama Dinas Lingkungan Hidup (DLH), Laboratorium Kesehatan Provinsi, dan Balai K3 bersinergi memasang alat ukur kualitas udara portabel di tiga titik rawan, yakni Bantuas, Makroman, dan Betapus, yang dibarengi dengan pembagian masker gratis bagi masyarakat.
Pewarta: Ahmad RifandiEditor : Helti Marini S
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.