Balikpapan (ANTARA News - Kaltim) - Warga Balikpapan kini dihantui lagi penyebaran virus H5N1 sehingga Pemkot mengumumkan status Waspada Flu Burung terkait mati mendadaknya puluhan ekor ayam yang ternyata positif terkena virus influenza A.

Wali Kota Imdaad Hamid di Balikpapan, Minggu menyatakan bahwa sejak 3 Oktober ini, Balikpapan dinyatakan Waspada H5N1.
   
"Pemicunya, sudah 96 ekor ayam peliharaan masyarakat yang mati mendadak sejak 25 September 2010 di empat kelurahan di Balikpapan, yakni Gunung Bahagia, Sepinggan, Manggar, dan Prapatan," kata Wali Kota Imdaad.
   
Hal itu disampaikanya di rumah dinas didampingi Wakil Wali Kota Rizal Effendi, Kepala Dinas Kesehatan drg Dyah Muryani, Kepala Dinas Pertanian, Kelautan, dan Perikanan (DKPP) Chaidar Chairulsyah, Kabag Humas Pemkot Balikpapan Aji Muhammad Sofyan, dan sejumlah pejabat terkait, termasuk Kapolresta Balikpapan AKBP Adji Rafik. 
   
"Ayam-ayam tersebut positif terkena virus flu burung atau H5N1 sehingga khawatir menyebar kemasyarakat maka kita nyatakan kasus ini tingkat Waspada H5N1," kata Wali Kota Imdaad di rumah jabatannya Jalan Sjarifuddin Joes Nomor 1 Minggu siang. 
   
Sikap Pemkot Balikpapan yang menyatakan status Waspada H5N1 itu berarti seluruh jajaran terkait harus mengambil tindakan preventif agar kasus itu tidak meluas.
   
Wali Kota juga menegaskan bahwa sementara ini hanya ayam yang positif terkena. Tidak ditemukan kasus pada burung peliharaan, misalnya.
   
Sejauh ini juga tidak ditemukan dan tidak dilaporkan adanya korban terhadap manusia. Sebab itu statusnya Waspada Flu Burung belum sampai tingkat Siaga atau KLB (kasus luar biasa).
   
Tindak lanjut dari pengumuman status Waspada Flu Burung itu maka mulai Minggu 3/10 tersebut Pemkot akan terus memantau situasi dan membuat evaluasi harian selama 15 hari ke depan atau hingga Senin 18/10.  
   
Imdaad mengingatkan agar warga lebih waspada mengingat jika virus tersebut menjangkiti manusia, yang bersangkutan tinggal punya kemungkinan 20 persen untuk hidup dan sehat kembali.  
   
"Maka Pemkot segera mengambil sejumlah langkah untuk antisipasi dan mengatasi masalah ini," ujar Imdaad menegaskan. 
   
Langkah Pemkot yang lain, yakni sudah menginstruksikan untuk memusnahkan semua ayam yang positif terkena virus mematikan tersebut. Memusnahkannya dengan cara dibakar di sebuah lubang khusus. 
  
Kemudian, Pemkot membentuk check point atau pos-pos pemeriksaan unggas yang masuk Balikpapan. Check point itu ada di Pelabuhan Ferry Kariangau, Pelabuhan Semayang, Pelabuhan Rakyat di Kampung Baru, di batas utara Balikpapan di kelurahan Karang Joang, dan di perbatasan timur laut Balikpapan di Teritip. 
   
"Segera laporkan kepada Ketua RT, petugas Puskesmas, atau petugas kelurahan terdekat," katanya mengharapkan dukungan warga terkait upaya penanganan Pemkot.
   
"Petugas gabungan dari Karantina Hewan DKPP, Dinas Kesehatan, dan Kepolisian akan menghentikan setiap kendaraan pembawa unggas, mengecek kelengkapan surat-surat, dan memeriksa secara kasat mata kondisi unggas yang dibawa," imbuh Wawali Rizal Effendi. 

Surat-surat yang dimaksud adalah dokumen kesehatan ternak yang dikeluarkan oleh Dinas Peternakan atau Pertanian asal ternak tersebut. 

"Bila tak ada surat-surat seperti itu, apalagi bila kondisi unggas yang dibawa juga tak meyakinkan, kami tidak izinkan masuk Balikpapan," kata Rizal. 

Virus yang menyebar di empat kelurahan tersebut diduga keras memang berasal dari luar Balikpapan. Ayam-ayam yang dipasok ke Balikpapan berasal peternakan-peternakan di Samarinda, Kukar, Penajam Paser Utara, Paser, bahkan hingga dari sejumlah daerah di Kalsel. 
   
Balikpapan setiap hari perlu 25.000-30.000 ekor ayam. Puncaknya pada Ramadhan dan Idul Fitri lalu, kebutuhannya mencapai 60.000 ekor per hari.  
   
Virus H5N1 termasuk virus influenza A, yang inangnya adalah burung yang hidup di air (aquatic bird) yang kemudian beradaptasi dengan inang dan tidak menyebabkan penyakit pada inangnya tersebut. 
   
Beberapa inang yang permanen dari virus influenza A adalah mamalia, babi, kuda, dan ayam ternak.



Aman Dikonsumsi


Meski demikian, ayam yang dicurigai terkena flu burung dan dipotong sebelum mati sendiri, masih bisa dimakan.

"Direbus di air mendidih atau sekurang-kurangnya di air bersuhu 80 derajat C. Demikian juga telurnya, digoreng di dalam minyak panas atau direbus sebelum dimakan, " terang drg Dyah Muryani, Kepala Dinkes Balikpapan. 

Kemudian, bila masyarakat menemukan adanya unggas, artinya ayam atau burung, yang mati mendadak, diminta untuk tidak menyentuhnya dengan tangan telanjang. 

Setelah itu unggas dimusnahkan dengan cara dibakar. Disarankan untuk terlebih dahulu membuat lubang untuk pembakarannya. Turut dimusnahkan alas kandang dan sisa kotoran. 
 
Setelah itu semua yang terlibat harus cuci tangan dengan sabun. Kemudian segera mandi dengan bersabun, dan baju yang digunakan juga segera dicuci dengan sabun. 




Editor : Iskandar Zulkarnaen

COPYRIGHT © ANTARA 2026