Data itu lebih tinggi ketimbang Pilkada untuk pemilihan bupati/wakil bupati pada 1 Juni 2005 yang mencapai 29 persen.
Kutai Kartanegara adalah daerah pertama melaksanakan pemilihan kepala daerah secara langsung pada 1 Juni 2005. Pilkada untuk periode 2005-2010 itu dimenangkan oleh Syaukani HR, yakni ayah dari Rita Widyasari.
"Dari hasil 'quick count' (perhitungan cepat) yang kami lakukan terlihat bahwa tingkat partisipasi pemlih atau pemilih yang datang ke TPS dan mencoblos dengan benar pada pilkada di Kabupaten Kutai Kartanegara hanya 64,48 persen," kata Direktur Eksekutif CPI (Citra Publik Indonesia), Hendrasmo, di Tenggarong, Sabtu.
Artinya, ada sekitar 35, 52 persen pemilih yang tidak memilih atau memilih tapi suaranya tidak sah.
Dari 581 108 jumlah penduduk kabupaten dengan APBD (anggaran belanja dan pendapatan daerah) hingga Rp5 triliun itu dengan rincian, perempuan sebanyak 274. 592 dan laki-laki sebanyak 306. 516, hanya 431. 656 jiwa yang terdaftar sebagai pemilih pada DPT (daftar pemilih tetap) yang ditetapkan KPUD Kutai Kartanegara.
Berdasarkan data itu, maka angka Golput pada pilkada Kutai Kartanegara 2010-2015 ini lebih tinggi ketimbang Pilkada sebelumnya (2005-2010) yang saat itu dimenangkan Syaukani HR yakni hanya lebih dari 29 persen.
Hasil perhitungan cepat yang dilakukan CPI bersama Lingkaran Survei Indonesia (LSI), pasangan calon Bupati Kutai Kartanegera ,Rita Widyasari dan M. Gufron Yusuf meraih 55,10 persen disusul pasangan Awang Ferdian Hidayat dan Suko Buono dengan perolehan 17,59 persen.
Sementara, pasangan yang sempat diunggulkan pada Pilkada Kutai Kartanegara yakni, Awang Dharma Bakti dan Syaiful Aduar hanya memperoleh 11,47 persen. Tiga pasangan calon Bupati Kutai Kartanegara lainnya yakni, Sugianto dan Fathan Djunaedi memperoleh 7,43 persen, pasangan Edward Azran dan Syahrani 6, 61 persen serta pasangan Idrus SY dan Shali hanya memperoleh 1, 89.
: Iskandar Zulkarnaen
COPYRIGHT © ANTARA 2026