Samarinda (ANTARA) - Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) terus berkomitmen memperkuat pelestarian nilai-nilai tradisi yang telah mengakar kuat di masyarakat melalui penyelenggaraan rangkaian pesta adat Lom Plai 2026 di Desa Nehas Liah Bing, Kabupaten Kutai Timur.
"Pesta adat Lom Plai bukan sekadar perayaan syukur atas hasil panen, melainkan manifestasi nyata dari keteguhan masyarakat Dayak Wehea dalam menjaga identitas budaya di tengah arus modernisasi," ujar Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) Kaltim Ririn Sari Dewi saat dikonfirmasi di Samarinda, Senin.
Ririn menjelaskan bahwa rangkaian acara yang berlangsung mulai Maret hingga April ini menjadi salah satu daya tarik wisata budaya unggulan yang masuk dalam kalender Karisma Even Nusantara (KEN) 2026.
Tradisi tahunan ini diawali secara sakral melalui prosesi Ngesea Egung atau pemukulan gong pada 23 Maret sebagai tanda dimulainya seluruh rangkaian ritual.
Masyarakat adat kemudian melaksanakan Laq Pesyai dengan berbondong-bondong menuju hulu Sungai Wehea untuk mengambil buah hutan dan rotan sebagai perlengkapan upacara.
Prosesi berlanjut pada ritual Naq Pesyai Duq Min dan Wet Min yang merupakan simbolisasi pembuatan batas wilayah hulu serta hilir kampung menggunakan anyaman rotan.
"Keunikan budaya Wehea juga tampak pada ritual Ngelwung Pan, dimana para perempuan adat melakukan ritual spiritual secara tertutup di bawah rumah keturunan Hepui," papar Ririn.
Memasuki bulan April, warga adat mulai membangun pondok darurat di pinggir sungai dalam tradisi Naq Jengea sebagai persiapan menjelang hari puncak.
Puncak perayaan atau Bob Jengea dimeriahkan dengan pawai budaya, penampilan tari Hudoq, hingga atraksi perang-perangan di atas sungai yang dikenal dengan Seksiang.
Seluruh rangkaian upacara adat ini akan ditutup dengan ritual pembersihan kampung Embos Epaq Plai pada 29 April 2026 guna mengusir hal buruk dan memohon keberkahan musim tanam mendatang.
"Kami berharap kolaborasi antara pemangku adat dan pemerintah daerah dapat terus menjaga keberlanjutan tradisi ini sebagai warisan intelektual bangsa," kata Ririn.
Baca juga: Festival Lom Plai kembali masuk KEN 2026
