Samarinda (ANTARA) - Kampung Ketupat di Kelurahan Mesjid, Samarinda Seberang, Kota Samarinda, Kalimantan Timur, ramai oleh aktivitas para perajin yang tengah sibuk mempersiapkan pesanan ketupat Lebaran.
"Permintaan ketupat melonjak setiap kali Lebaran tiba. Biasanya, dalam seminggu menjelang Lebaran, kami bisa menjual hingga 10.000 ketupat," ujar Adelin Rahmawati, salah satu perajin generasi ketiga Kampung Ketupat di Samarinda, Kamis.
Permintaan tersebut datang dari berbagai daerah, mulai dari Samarinda, Balikpapan, Penajam Paser Utara, hingga Bontang.
Sejarah Kampung Ketupat ini berawal dari puluhan tahun silam, ketika nenek Adelin mulai merintis usaha pembuatan ketupat. Saat itu, transportasi masih mengandalkan perahu dayung untuk mengantarkan ketupat ke pasar-pasar di Samarinda. Pemkot Samarinda kemudian menasbihkan sebagai kampung wisata sejak 2018.
"Dulu, nenek saya yang membawa ketupat ke Pasar Pagi dan Pasar Segiri," kenang Adelin.
Proses pembuatan ketupat di Kampung Ketupat ini masih menggunakan cara tradisional. Daun nipah yang menjadi bahan utama didapatkan dari daerah muara. Daun-daun tersebut kemudian dijemur hingga kering sebelum dianyam menjadi wadah ketupat.
Baca juga: Geliat Kampung Ketupat, khazanah Samarinda jadi kebanggaan bangsa
"Kami menjemur daun nipah selama dua hingga tiga hari, tergantung cuaca," jelas Adelin.
Meskipun permintaan tinggi, para pengrajin di Kampung Ketupat menghadapi sejumlah tantangan. Salah satunya adalah ketersediaan bahan baku.
"Kami membeli daun nipah dari pengepul dengan harga Rp50.000 per ikat," kata Adelin.
Satu ikat daun nipah dapat menghasilkan sekitar 250-300 ketupat ukuran kecil.
Ramdhani, perajin lainnya, menambahkan bahwa menjelang Lebaran, omzet penjualan ketupat di Kampung Ketupat bisa mencapai puluhan juta rupiah.
"Ada satu warung di sini yang omzetnya bisa mencapai Rp10 juta selama musim Lebaran," ungkap Ramdhani.
Ketupat yang dihasilkan di kampung ini memiliki berbagai ukuran, mulai dari yang kecil untuk coto Makassar dan ketupat Kandangan hingga yang besar untuk hidangan soto Banjar.
Baca juga: Wali Kota Samarinda kedepankan gotong royong di Kampung Ketupat
