Riset dilakukan karena banjir di Kabupaten Mahulu selalu berulang hampir tiap tahun. Riset yang kami lakukan ini berjudul Sistem Informasi Geospasial Banjir di Kabupaten Mahakam Ulu,
Samarinda (ANTARA) - Badan Riset dan Inovasi Daerah Provinsi Kalimantan Timur (Brida Kaltim) mengungkap hasil riset tentang mitigasi banjir di Kabupaten Mahakam Ulu (Mahulu), untuk meningkatkan pemahaman publik tentang kondisi dan dampaknya sebagai persiapan tindakan di masa datang.
"Riset dilakukan karena banjir di Kabupaten Mahulu selalu berulang hampir tiap tahun. Riset yang kami lakukan ini berjudul Sistem Informasi Geospasial Banjir di Kabupaten Mahakam Ulu," kata Kepala Brida Kaltim Fitriansyah di Samarinda, Senin.
Hasil riset merekomendasikan pembangunan minimal empat pos hujan di empat lokasi, yakni di Kecamatan Long Apari, Long Pahangai, Long Bagun, dan Sungai Boh, sebagai mitigasi atau untuk mengurangi dampak ke masyarakat.
“Pos hujan perlu dibangun karena banjir di Mahulu disebabkan oleh hujan, sehingga keberadaan pos akan mampu memantau curah hujan dan melakukan peringatan dini agar warga di kawasan hilir sungai bisa siaga,” katanya.
Ia melanjutkan, penanggulangan banjir harus menjadi bagian pengelolaan daerah aliran sungai (DAS), ditangani mulai dari prabencana, saat bencana darurat, dan pascabencana dengan mengacu pada siklus hujan.
Pendekatan penanggulangan banjir, katanya lagi, mengacu pada pengurangan risiko bencana, bukan lagi tanggap darurat, kemudian memahami pola banjir untuk mengurangi risiko, hingga penanggulangan secara kolaboratif.
Melalui hasil riset ini, pihak terkait dan publik dapat meningkatkan pemahaman tentang pentingnya data tinggi muka air, meningkatkan komitmen pengelolaan daerah tangkapan air, peningkatan jaringan pos hujan, dan sejumlah manfaat lainnya.
Ia juga mengatakan, dalam riset yang dilakukan pada 2024, banjir di Mahulu terjadi pada 13-14 Mei di Kecamatan Long Apari dan Long Pahangai, kemudian pada 15 Mei air dari hulu turun ke hilir dan merendam permukiman di Kecamatan Long Bagun, Laham, dan Kecamatan Long Hubung dengan tinggi muka air tiga meter.
Saat itu, wilayah yang terdampak mencapai 37 kampung dari total 50 kampung, yakni enam kampung di Kecamatan Long Apari, 10 kampung di Long Pahangai, 13 kampung di Long Bagun, dan delapan kampung di Kecamatan Long Hubung.
Pewarta: M.GhofarEditor : Rahmad
COPYRIGHT © ANTARA 2026