Kemajuan ekonomi dan teknologi tanpa bimbingan moral Pancasila berpotensi melahirkan ketimpangan dan dehumanisasi
Samarinda (ANTARA) - Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Provinsi Kaltim Sufian Agus menegaskan pentingnya Pancasila sebagai pondasi pembangunan suatu bangsa dalam upaya mewujudkan masyarakat adil makmur dan sejahtera.
"Kemajuan ekonomi dan teknologi tanpa bimbingan moral Pancasila berpotensi melahirkan ketimpangan dan dehumanisasi," kata Sufian Agus sebagai inspektur upacara peringatan Hari Lahir Pancasila 2025 di GOR Kadrie Oening Sempaja, Samarinda, Minggu
Oleh karena itu, lanjut Sufian Agus memperkokoh ideologi Pancasila berarti menegaskan kembali bahwa pembangunan bangsa harus selalu berakar pada nilai-nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, dan keadilan sosial, terutama di tengah tantangan globalisasi dan digitalisasi.
"Pancasila merupakan dasar negara dan pandangan hidup bangsa Indonesia yang berisi nilai-nilai luhur yang sudah sesuai dengan lingkungan sosial dan budaya bangsa," jelasnya.
Sufian mengatakan pembumian Pancasila menjadi tanggung jawab bersama seluruh elemen bangsa, dari pusat hingga daerah, pejabat hingga masyarakat, serta tokoh agama hingga pemuda.
"Mari kita jadikan Hari Lahir Pancasila ini bukan sekadar seremonial, tetapi momen untuk memperkuat komitmen kita terhadap nilai-nilai luhur bangsa. Jadikan setiap langkah, setiap kebijakan, setiap ucapan dan tindakan kita sebagai cerminan dari semangat Pancasila," jelasnya.
Dalam amanat Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) RI, Yudian Wahyudi, yang dibacakan oleh Sufian Agus, ditekankan bahwa Pancasila bukan sekadar dokumen historis, melainkan jiwa bangsa, pedoman hidup bersama, dan bintang penuntun menuju Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur.
"Mempelajari pancasila bahwa kebinekaan bukanlah alasan untuk terpecah, melainkan kekuatan untuk bersatu," terang Sufian Agus, mengutip amanat tersebut.
Sufian Agus menambahkan mengenang Pancasila harus terus dilakukan, terutama kepada generasi muda yang akan meneruskan cita-cita bangsa.
"Kita tidak bosan-bosannya mengingatkan kepada generasi muda yang saat ini akan meneruskan cita-cita kita," tegasnya.
Ideologi yang luar biasa ini, lanjut Sufian, harus dilestarikan hingga akhir hayat.
Fokus utama saat ini adalah mempersiapkan generasi muda menyongsong tahun 2045, yang disebut sebagai generasi emas.
Pewarta: ArumantoEditor : Rahmad
COPYRIGHT © ANTARA 2026