Samarinda (ANTARA Kaltim) - Pemprov Kaltim melalui instansi terkait terus mengembangkan perkebunan pisang berikut agrobisnisnya, yakni satu kawasan yang dipadukan dengan industri pengolahannya, seperti industri pengolahan tepung pisang dan mesin pengolah keripik.

"Sentra pengembangan pisang di Kaltim terdapat di beberapa daerah, seperti di Kecamatan Sebatik Kabupaten Nunukan, kemudian di Kecamatan Kaubun dan Kaliorang Kabupaten Kutai Timur," ujar Kepala Dinas Pertanian, Tanaman Pangan dan Hortikultura Kaltim, H Ibrahim di Samarinda, Sabtu.

Di Kecamatan Kaliorang, katanya, saat ini telah terbangun Stasiun Agrobisnis Pisang. Di kawasan itu selain telah dikembangkan kebun pisang juga terdapat sentra pengolahan pisang yang terdiri mesin produksi, mesin pengolahan tepung, mesin pengemasan atau pengepakan, dan berbagai peralatan lain untuk menunjang industri hasil petani pisang.

Dia berharap agar keberadaan sentra pengembangan agribisnis produksi pisang tersebut, maka para petani dapat kembali bergairah menanam aneka jenis pisang, pasalnya di kawasan itu juga diintergrasikan perawatan, pasca panen, dan pengiriman pisang maupun hasil industrinya ke daerah pemesan.

Dia juga berharap populasi pisang di Kaltim dapat menambah pendapatan dan meningkatkan ekonomi sehingga kesejahteraan petani secara perlahan terus meningkat. Apalagi jika ke depan ada investor yang menanamkan modalnya untuk perkebunan pisang yang lebih besar.

Di kawasan agrobisnis di Kaliorang, lanjut dia, menerapkan prinsip kehati-hatian pada penularan penyakit. Terkait dengan itu, maka truk pengangkut pisang dan hasil industrinya tidak boleh mendekati kebun pisang, yakni sebagai antisipasi penyebaran penyakit.

Ada beberapa penyakit rentan menyerang pisang yang dimungkinkan virus atau bakterinya ditularkan dari daerah lain melalui truk pengangkut pisang, seperti penyakit fusarium atau bakteri yang menyebabkan layu pada pisang.

Selama ini pihaknya telah menyiapkan perkebunan aneka jenis pisang di Kabupaten Kutai Timur dengan luas 2.000 hingga 3.000 hektare, sedangkan di Kecamatan Sebatik telah dibangun demplot untuk penelitian dan pengembangan pisang.

Perkebunan pisang dari Kutai Timur pernah menjadi komoditi primadona perdagangan antar pulau khususnya ke Pulau Jawa di era 1990-an, tetapi karena terserang penyakit layu fusarium, kemudian produksi pisang kepok asal Kaltim terus menurun.

"Kini, sering dengan upaya Pemprov Kaltim bersama kabupaten terkait terus menggairahkan kembali petani pisang, bahkan sudah dibangunkan kawasan yang terintegrasi tersebut, maka kami yakini hasil pisang dari Kaltim kembali bangkit," ujar Ibrahim lagi. (*)


Pewarta: M Ghofar
Editor : Arief Mujayatno

COPYRIGHT © ANTARA 2026