Sebelum banyak hujan sepekan terakhir ini, memasuki gerbang kawasan hutan tanaman industri yang dikelola sebuah PT di Sepaku, Penajam Paser Utara, mobil bisa langsung berselimut debu. Truk-truk dan berbagai jenis mobil lain yang lalu lalang menuju atau dari kawasan Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara menerbangkan debu warna merah hati dari jalan lebar yang kering dipanggang Matahari.

”Setiap kali ke mari, selalu saja ada yang baru,” kata Luqman, staf Otorita IKN, yang biasa mendampingi para jurnalis berkunjung melihat pembangunan berbagai fasilitas di IKN.

Di kawasan Titik Nol yang dulu jadi tempat berkemah Presiden Jokowi, misalnya, ada jembatan titian baru mengelilingi lapangan kecil amphiteater Titik Nol. Ada gazebo juga yang jadi tempat bernaung para sopir bila ada acara yang dihadiri banyak pejabat. Pada hari libur biasa, bangunan peneduh ini jadi tempat para wisatawan untuk buka wadah bekal makan siang.

Juga ada prasasti Titik Nol tak jauh dari gazebo baru itu.

Di persimpangan sebelum masuk Titik Nol kini ada juga plang bertuliskan Kawasan Mix Use. Kelak, di situ dibangun pertokoan hingga mal. Yang membangun pengusaha. Otorita IKN menyediakan kaveling lahan dan fasilitas yang diperlukan untuk menjalankan usahanya.

”Sangat menarik,” kata President Director Sinarmas LDA Maritime (SLM) Matthieu Lavoine saat datang bersama rombongan pengusaha Prancis pada Juni lampau .

Pengusaha Indonesia sendiri sangat bersemangat. “Kami merasa ada kewajiban tersendiri untuk mulai pembangunan terlebih dahulu di ibu kota kita yang baru nanti,” kata Direktur Utama PT Pakuwon Jati Tbk Alexander Stefanus Ridwan Suhendra usai menandatangani kesepakatan dengan PT Bina Karya (Persero) di Jakarta baru-baru ini.

Kedua pihak, dengan disaksikan Otorita IKN, sepakat menggabungkan sumber daya untuk membangun pusat perbelanjaan, apartemen, dan hotel di Kota Nusantara nanti.

Masuk lebih dalam mengikuti jalan-jalan tanah liat berdebu berlapis kerikil itu, terlihat makin banyak pembangunan dan kesibukan. Kawasan di sekitar pembangunan Istana Negara bahkan kini menjadi daerah terbatas karena pembangunannya sedang dalam tahap penting di sisi keamanan para penghuninya kelak. Tamu dan jurnalis hanya bisa melihat dari jauh, terutama dari Bukit Sumbu Barat Kebangsaan.

”Yang sudah jadi itu menara hunian pekerja konstruksi (HPK),” lanjut Luqman. HPK selesai dibangun pada Januari sebanyak 22 tower. Penghuninya kini 15 ribu pekerja dari berbagai daerah di Indonesia.

HPK ini jadi satu destinasi unggulan bila berkunjung ke IKN Nusantara. Di sini ada kantin luas yang di sekelilingnya warung-warung makan. Ada cukup meja kursi untuk 200 orang sekaligus. Bila hari panas, yang hampir selalu demikian, maka minum teh es di kantin itu serasa benar-benar nyesss di tenggorokan.

Apalagi di sebelahnya ada masjid sederhana namun artistik. Menteri PUPR Basuki Hadimuljono, Ketua Satgas Pelaksanaan Pembangunan Infrastruktur IKN Danis Hidayat Sumadilaga, bersama Kepala Otorita IKN Bambang Susantono menjadi jamaah tetap masjid ini, bila mereka ada di lokasi ini.

Menteri PUPR Basuki Hadimuljono mengenakan sepatunya kembali usai salat zuhur berjamaah di masjid hunian pekerja konstruksi di IKN. Di latar belakang adalah kantin tempat makan. ANTARA/Novi Abdi

Hunian ASN

Kelar membangun hunian untuk para pekerja konstruksi, Otorita IKN segera maju ke tahap berikutnya. Akhir Juli ini dijadwalkan hunian untuk para aparatur sipil negara atau ASN, termasuk juga Polri dan TNI, juga sudah mulai dibangun.

Sebanyak 47 menara rumah susun setinggi 12 lantai dengan anggaran Rp9,4 triliun dari APBN akan dikerjakan Kementerian PUPR.

"Ada juga nanti perumahan ASN dengan skema KPBU (kerja sama pemerintah dengan badan usaha),” kata Danis Hidayat dalam kesempatan terpisah.

Kalau KPBU, maka Pemerintah tak akan keluar uang karena pakai dana investor tersebut. Bila rumahnya sudah jadi, Pemerintah tinggal menyewa dari investor atau pengembang. Namanya rumah milik pengembang, maka developer juga yang pelihara. ASN yang bertugas tinggal menempati.

Setiap ASN yang bertugas di IKN akan mendapatkan rumah susun sesuai pangkat, golongan, dan ruangnya, atau dalam bahasa umum tingkat dan jabatannya. Semakin tinggi pangkat ASN, kian luas rumah susun jatahnya. Yang paling kecil 98 meter persegi.

Dari 47 tower, 31 menara untuk hunian ASN, sembilan menara untuk Paspampres, tujuh menara untuk personel TNI/Polri dan Badan Intelijen Negara.

Untuk menteri yang merupakan jabatan politis disediakan rumah tapak. Bila rumah buat ASN baru mau dibangun, rumah untuk menteri sudah selesai 14 unit dari 36 unit yang direncanakan. Anggaran seluruhnya Rp520,46 miliar. Pada Juni 2024 diharapkan sudah selesai dan sudah bisa dihuni.

Rumah buat menteri ini menempati lahan seluas 1.000 meter persegi dan luas bangunan 580 meter persegi.

Rumah menteri juga dibangun menyesuaikan dengan kontur lahan. Jadi ada yang downslope dan ada juga yang upslope alias bertingkat ke bawah atau ke atas sesuai lahan tempatnya dibangun.

Di lantai pertama akan ada teras, ruang kerja, ruang tunggu kedinasan, area kedinasan, ruang tamu keluarga, dan kamar tidur tamu. Di lantai dua merupakan area pribadi berisi ruang keluarga, kamar tidur utama, dan kamar tidur anak.

Untuk menambah sejuk, lingkungan rumah menteri akan ditanami banyak pohon ketapang yang daunnya besar-besar dan teduh. Akan ditanam juga pohon jambu, bahkan juga anggrek hitam (Coelegyn pandurata), anggrek khas Kalimantan Timur.


Perpindahan ASN dan TNI/Polri

Sesudah sarana kerja, akomodasi kelar, dan berbagai fasilitas penunjang pekerjaan dan kehidupan tersedia, barulah ASN, TNI/Polri, dan para pejabat pindah. Saat berkunjung ke IKN awal Juni lampau, Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Azwar Anas menguraikan rencana pemindahan ASN tersebut.

Perpindahan itu akan dimulai pada 2024. Pada tahap pertama itu sebanyak 16.990 orang akan dipindahkan ke IKN. Mereka terdiri atas 11.274 ASN dari 40 kementerian dan lembaga, dan 5.716 personel TNI/Polri.

Farida Dewi Maharani, pejabat Fungsional dari Kementerian Komunikasi dan Informatika mengatakan bahwa pindah ke IKN Nusantara adalah untuk menuju hal yang lebih baik, yaitu hidup di lingkungan yang jauh lebih layak, hunian asri dan modern, menghirup udara lebih sehat, serta tidak menghabiskan waktu di jalan dalam kemacetan.

“Apalagi ASN yang dipindahkan lebih awal diseleksi terlebih dahulu, ini tentu keistimewaan tersendiri,” kata Dewi. Keistimewaan itu, antara lain, turut menjadi pelaku sejarah, baik sejarah IKN maupun sejarah hidup pribadi.

Dalam acara Forum Kapasitas Nasional di Balikpapan, Sekretaris Otorita IKN, Ahmad Jaka Santos Adiwijaya, menyebutkan bahwa fasilitas pendukung untuk memenuhi kebutuhan dasar hidup seperti pasar, sekolah, rumah sakit dan lain-lain sudah akan siap seiring dengan perpindahan ASN.

Fasilitas untuk kebutuhan ASN yang pindah sudah dipikirkan dan akan disiapkan. Sebagai contoh, rumah sakit bertaraf internasional akan hadir di Kawasan Inti Pusat Pemerintahan.

"Kami juga akan bekerja sama dengan lembaga pendidikan untuk menyediakan fasilitas pendidikan yang baik,” ujar Jaka.

Tidak hanya itu, Jaka Santos menambahkan bahwa transisi penggunaan energi dari konvensional saat ini ke energi terbarukan diprioritaskan di IKN. Indonesia juga ingin membuktikan bahwa pemindahan ibu kota dari Jawa-Jakarta ke Kalimantan-Nusantara bukan merusak paru-paru dunia dan hutan alam yang ada.

”Di IKN justru kita akan menerapkan zero emisi dengan menanam banyak pohon, yang saat ini bibit-bibitnya disiapkan di persemaian di Mentawir,” kata Jaka Santos. Emisi yang dihasilkan di IKN akan langsung diserap oleh pohon-pohon tersebut.

Hari itu hujan gerimis turun di Titik Nol, menenangkan debu untuk tidak beterbangan  ketika mobil-mobil melintas.

Bersamaan dengan pembangunan di IKN Nusantara yang terus berderap, hadirnya sebuah ibu kota baru yang ramah lingkungan itu kini kian dekat. 

 

Pewarta: Novi Abdi

Editor : Rahmad


COPYRIGHT © ANTARA News Kalimantan Timur 2023