Ketua KPA PPU Jody, Rabu (5/9), mengatakan awalnya jumlah ODHA di PPU sebanyak 16 orang, namun kini menjadi 17 orang setelah seorang warga Sotek dinyatakan positif terinfeksi virus HIV. Sebanyak 11 orang berada di Kecamatan Penajam, termasuk penderita temuan baru ini, di Sepaku dua orang, Waru satu orang dan Babulu tiga penderita.
"Temuan penderita ini, setelah KPA Balikpapan memberikan informasi terkait adanya warga PPU yang positif mendeita HIV/AIDS, dimana sebelumnya yang bersangkutan menjalani perawatan medis di RSUD Samarinda dan Balikpapan," jelasnya.
Dikatakan Jody, penderita baru ini berjenis kelamin perempuan dan terinfeksi virus HIV karena hubungan seksual dengan suaminya yang lebih dahulu terinfeksi HIV/AIDS yang telah lama meninggal dunia, sedangkan dua orang anaknya sama sekali tidak terinfeksi virus HIV.
Ia menilai Pemerintah Kecamatan dan kelurahan kurang proaktif untuk menjalankan program Forum Kabupaten Sehat (FKS), terbukti hingga saat ini sosialisasi pencegahan HIV/AIDS kepada masyarakatnya tidak pernah dilakukan.
"Kami terkadang bersama penderita kesulitan melaksanakan kegiatan sosialisasi, karena tidak mendapatkan dukungan dana," ujar Jody.
Selain itu, lanjutnya, Dinas Kesehatan (Dinkes) PPU juga terkesan kurang proaktif karena hingga kini belum juga menempatkan satu dokter untuk menangani pasien penderita HIV/AIDS di sejumlah wilayah. Serta tidak pernah melakukan pemeriksanaan atau konseling dan tes mandiri (VCT) khusus pada pemuda di empat kecamatan.
Ditambahkan Jody, sebagian besar warga masih malu-malu melakukan tes. Namun, jika Dinkes gencar melakukan sosialisasi, Pemerintah Kecamatan dan Kelurahan dapat menyadarkan masyarakat untuk rela melalukan pemeriksaan.
"Kami mengusulkan agar Dinkes untuk menempatkan petugas kesehatan serta melaksanakan VCT bagi para pemuda dan warga di empat kecamatan, khususnya bagi daerah yang wilayahnya terdapat penderita HIV/AIDS," ucapnya.
Kurangnya perhatian pemerintah terhadap pencegahan dan pengobatan bagi penderita. Kata Jody terlihat dari anggaran untuk pembelian obat bagi para penderita HIV/AIDS sangat minim. Karena walaupun jumlah penderita telah bertambah sebanyak 17 orang, anggaran masih disiapkan Rp120 juta setiap tahunnya, padahal nilai itu dianggarkan ketika penderita masih berjumlah 10 orang di PPU.
"Anggaran perawatan, pembelian obat, susu dan suplemen daya tahan tubuh bagi para penderita sangat minim, dan nilainya masih sama untuk kebutuhan 10 orang saja, padahal jumlah penderita setiap tahun mengalami penambahan," ujarnya. (*)
Pewarta: Bagus PurwaEditor : Arief Mujayatno
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.