"Negara serumpun yang hadir dalam dialog sastra ini adalah Malaysia Timur yang meliputi negara bagian Sabah, Sarawak, Miri dan Labuan, kemudian Brunei Darussalam, dan Indonesia yang meliputi Provinsi Kaltim, Kalteng, Kalsel dan Kalbar," ujar Ketua panitia DBK XI Korri Layun Rampan di Samarinda, Selasa.
Dalam acara "Dialog Borneo Kalimantan (DBK) XI" itu telah terdaftar sekitar 700 pesrta.
Pada dialog negara serumpun di wilayah Borneo (Kalimantan Indonesia, Brunei dan Malaysia Timur) akan menghadirkan 18 pembicara dari tiga negara tersebut.
Ke- 18 pembicara dalam dialog itu terdiri pembicara asal Indonesia, yakni H Musyahrim, Korrie Layun Rampan, Surya Sili, Marko Mahin, Achmadun Josi Herfanda, Tajuddin Noor Ganie, Rustam Effendim, Mizar Bazarvio, dan Ibnu HS, Jamal T Suryanata, dan Chairil Effendi.
Kemudian pembicara asal Malaysia terdiri dari Jasni Matiani, Jaya Ramba dan Encik Otham Mahali, sedangkan pembicara asal Brunei Darussaslam adalah Awang Suib dan Awang Mohd Zafri Ariff bin Mohd Ariff.
Sebagian besar pembicara merupakan pakar dan sastrawan asal perguruan tinggi di Indonesia, Malaysia dan Brunei Darussalam.
Terkait dengan itu, maka sekitar 60 sastrawan asal luar negeri sudah mengkonfirmasi akan hadir. Kemudian dari luar Kaltim sekitar 100 peserta dan sastrawan asal empat provinsi di Kalimantan sebanyak 500 orang ditambah peserta umum, tamu dan undangan lain.
DBK XI ini merupakan rekomendasi Dialog Borneo-Kalimantan X yang digelar di Brunei Darussalam pada 2007.
Dalam dialog ini ada sesuatu yang istimewa, yakni akan diluncurkan 4 buku tentang sejarah sastra di Kalimantan dan Kaltim pada khususnya. Ke- 4 judul buku dengan ribuan eksemplar itu akan dibagikan kepada peserta, tamu dan undangan.
Buku sastra yang akan dibagikan ini berjudul Kalimantan Dalam Puisi Indonesia, Kalimantan Dalam Prosa Indonesia, dan Kalimantan Dalam Sastra Indonesia yang terdiri dari dua jilid.
"Buku ini merupakan kumpulan ensiklopedi historis perjalanan sastra Indonesia di Kaltim yang memuat karya dari hampir seluruh sastrawan. Penulis sastra tertua yang karyanya terangkum dalam empat buku tersebut mulai dari kelahiran 1923 hingga sastrawan termuda kelahiran 1994," ujar Korri lagi.
Editor : Iskandar Zulkarnaen
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.