"Kami menuntut pencairan dana BOS, pemberian insetif bagi guru honorer, perbaikan sarana dan prasarana pendidikan, " kata Ketua BEM (Badan Ekskutif Mahasiswa) Unmul Dimas di samarinda, Senin.
Apalagi, daerah lain tidak ada masalah atau sudah mencairkan dana BOS yang sangat strategis dalam mendukung pengembangan dunia pendidikan.
Mereka menilai bahwa banyak sekolah di Samarinda yang belum memiliki lab sebagai penunjang sarana belajar-mengajar.
Aksi unjuk rasa tersebut juga sebagai memperingati hari pendidikan nasional (Hardiknas) setiap 2 Mei.
Pasalnya, mereka menilai bahwa hingga saat ini Pemkot Samarinda belum dapat maksimal dalam mendukung pendidikan di Kota Samarinda. Apalagi
"Pendidikan merupakan salah satu bidang kehidupan yang sangat penting, sehingga Pemkot harus lebih serius dalam menyukseskan agenda pendidikan di Samarinda," kata Dimas menambahkan.
Pengunjuk rasa menyatakan bahwa saat ini Pemkot Samarinda memiliki kegagalan-kegagalan dalam mendukung program pendidikan, yaitu gagal mengelola dana bosda dan insetif guru honorer di Samarinda.
Gagal memenuhi kebutuhan sarana pendidikan (gedung sekolah) Samarinda.
Mahasiswa juga menilai bahwa Pemkot tidak mengalokasikan dana operasional UN 2011 dan telah melakukan "pembohongan publik" dengan adanya janji-janji yang sampai kini belum terealisasi.
Para pengunjuk rasa menuntut agar Pemkot segera menuntaskan pemenuhan kebutuhan sarana pendidikan kota Samarinda. Menuntaskan masalah pencairan dana Bosda dan insetif guru honorer Samarinda.
Pengelolaan dana pendidikan kota Samarinda harus diaudit secara menyeluruh, selain itu Pemkot diharapkan dapat membersihkan jajaran birokrasi pendidikan dari yang disebutkan mereka sebagai "pejabat pembohong publik".
Mahasiswa juga menuntut agar Pemkot dapat mengalokasikan 30 persen anggaran pendidikan samarinda dari total anggaran APBD.
"Kami akan terus mengawal permasalahan pendidikan di Samarinda agar kedepannya menjadi lebih baik, terutama masalah Bosda dan apabila tidak ada tanggapan yang serius maka kami akan berunjuk rasa kembali dalam jumlah yang lebih besar," ujar Dimas.
Editor : Iskandar Zulkarnaen
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.