Samarinda (ANTARA Kaltim) - Beberapa wisatawan lokal yang menyusuri Sungai Karang Mumus di Kota Samarinda, Kalimantan Timur, menyatakan tidk menyangka, ternyata beberapa tempat ekowisata di sungai itu indah dan menantang jiwa petualang.

"Asyik! Benar, keren abis`! Saya baru tahu ternyata di tengah kota kita, ada wisata alam yang indah dan menantang, bak arung jeram di Hulu Mahakam. Ternyata di tengah kota ini masih ada yang alami dan indah," ujar Kepala SDN 005 Loa Janan Ilir, Kota Samarinda Suciati di Samarinda, Rabu.

Hal itu dikatakan Suciati ketika istirahat makan di Rumah Kuliner Muang. Ia melakukan perjalanan ekowisata bersama 17 guru di SD yang dipimpinnya.

Diantara keindahan yang mereka rasakan selama perjalanan susur sungai ke arah hulu sekitar 2 jam dan kembali ke hilir sekitar 1,2 jam itu adalah beberapa deret pohon khas sungai yang jarang mereka lihat selama ini seperti pohon bamban, jinga, rengas, trembesi, dan beberapa pohon lain khas Kalimantan.

Keindahan lain yang mereka kagumi adalah deretan pohon di sisi kanan dan kiri Sungai Karang Mumus (SKM), yakni Keinan Kanopi. Objek ini masuk Kelurahan Gunung Lingai di sebelah kanan arah hulu dan sebelah kirinya masuk Kelurahan Sempaja Selatan.

Mereka menyusuri SKM dengan menggunakan empat perahu tersebut kemudian berhenti beberapa menit di Keinan Kanopi untuk menikmati pemandangan yang tidak ada di lokasi lain, sehingga mereka mengabadikan beberapa objek sekaligus "selfie" bersama.

Sedangkan tantangan bak mengarungi arung jeram itu adalah ketika dari Muang menuju Wadung Benanga, batas akhir perjalanan yang bisa ditempuh menggunakan perahu, karena pertengahan SKM yang sepanjang sekitar 47 km itu di bagian tengahnya tedapat bendung pengairan.

Arus menuju Benanga cukup deras dan ada jalur sempit karena terdapat beberapa batang pohon bekas tebangan dan akar pohon yang menghalangi DAS Karang Mumus sehingga liku-liku perahu dan benturan ke batang pohon merupakan tantangan tersendiri untuk adu nyali.

Beberapa kali mereka harus turun melalui jembatan kayu sempit, bahkan ketika melintasi bawah Jembatan Gunung Lingai, tidak bisa dilalui karena sungainya pasang.

"Jadi semua penumpang turun dan beramai-ramai mengangkat perahu supaya bisa melanjutkan perjalanan. Ini merupakan petualangan yang menantang," ujar Suciati, didampingi para guru. (*)       


Pewarta: Muhammad Ghofar
Editor : Didik Kusbiantoro

COPYRIGHT © ANTARA 2026