Salah satu yang berbeda pada tahun ini, kami mengedepankan ekoteologi dengan konsentrasi pada isu-isu lingkungan melalui penebaran cairan eco enzyme di Sungai Karang Mumus, Samarinda
Samarinda (ANTARA) - Perayaan Hari Raya Tri Suci Waisak 2570 BE di Samarinda, Provinsi Kalimantan Timur pada tahun ini secara khusus mengedepankan pendekatan ekoteologi sebagai wujud kepedulian umat Buddha dalam menyelamatkan lingkungan.
"Salah satu yang berbeda pada tahun ini, kami mengedepankan ekoteologi dengan konsentrasi pada isu-isu lingkungan melalui penebaran cairan eco enzyme di Sungai Karang Mumus, Samarinda," kata Ketua Buddhist Centre Samarinda Pandita Hendri Suwito di Samarinda, Minggu.
Ia menjelaskan bahwa momentum Waisak selalu menjadi pengingat bagi umat Buddha di Kalimantan Timur untuk terus menebar kebaikan kepada seluruh lapisan masyarakat.
Pesan moral tersebut juga mencakup pentingnya sebuah pengabdian yang memberikan manfaat luas, termasuk dalam menjaga eratnya keharmonisan antarumat beragama di daerah.
Menurutnya, di tengah perubahan akbar dan krisis global yang melesat cepat, umat manusia dituntut untuk tidak sekadar mengejar kemajuan material semata.
Pandita Hendri mengingatkan kemajuan yang tidak diimbangi oleh kebijaksanaan dan welas asih justru hanya akan memperbesar penderitaan serta kerusakan alam.
Berdasarkan ajaran Buddha, ujar dia, akar persoalan tersebut sesungguhnya berasal dari batin yang dipenuhi oleh keserakahan, kebencian, serta ketidaktahuan manusia itu sendiri.
Oleh karena itu, penyembuhan batin menjadi fondasi spiritual yang sangat penting agar umat manusia tidak kehilangan arah dalam menghadapi berbagai tekanan zaman.
Melalui ibadat tahunan Malam Renungan Waisak 2026, umat Buddha Kaltim kembali diajak untuk membangun kesadaran baru mengenai pentingnya menjaga harmoni dengan sesama dan alam.
"Perdamaian dunia sejatinya selalu dimulai dari langkah-langkah kecil dalam diri sendiri, yakni dengan senantiasa melepaskan kebencian dan menumbuhkan kepedulian sosial," ujar Pandita Hendri.
Dia menyatakan semangat Waisak kali ini mengisyaratkan masa depan dunia pada akhirnya sangat ditentukan oleh seberapa besar kualitas batin umat manusia.
"Kehidupan yang damai, sehat, dan bermartabat niscaya dapat terwujud secara nyata selama kebijaksanaan selalu berjalan berdampingan secara selaras dengan cinta kasih," demikian Pandita Hendri.
Pewarta: Ahmad RifandiEditor : Rahmad
COPYRIGHT © ANTARA 2026