Balikpapan (ANTARA) - Perwakilan Bank Indonesia (BI) Balikpapan, Kalimantan Timur, mengingatkan mewaspadai potensi lonjakan inflasi pada kelompok bahan pangan bergejolak (volatile food) imbas musim kemarau.
"Risiko inflasi harus diwaspadai, musim kemarau berpotensi menekan produksi pangan," ujar Kepala Kantor Perwakilan BI Balikpapan Robi Ariadi ketika ditanya mengenai dampak kemarau terhadap harga komoditas pangan di Balikpapan, Minggu.
Peningkatan aktivitas pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) pada semester II 2026, lanjut dia, juga diperkirakan mendorong permintaan komoditas pangan.
Tim pengendali inflasi daerah (TPID) Kota Balikpapan, Kabupaten Penajam Paser Utara dan Kabupaten Paser yang berada di wilayah kerja Perwakilan BI Balikpapan secara berkala melaksanakan gerakan pangan dan pasar murah, serta operasi pasar dan operasi pasar bahan bakar rumah tangga.
Badan Pusat Statistik (BPS) merilis pada Mei 2026 inflasi Kota Balikpapan 0,27 persen month to month (mtm), kata dia, penyumbang inflasi tertinggi berasal dari harga tiket pesawat, solar, dan pelumas kendaraan.
Kemudian juga roti manis, dan beras, harga kedua komoditas itu naik karena biaya kemasan dan logistik meningkat, sementara pasokan beras premium terbatas.
Kota Balikpapan juga mencatat penurunan harga pada bahan bakar rumah tangga, kangkung, emas perhiasan, daging ayam ras, dan tomat, penurunan harga tersebut didukung operasi pasar, pasokan lokal yang meningkat, serta turunnya harga emas global.
"Kabupaten Penajam Paser Utara mengalami deflasi 0,06 persen (mtm) karena pasokan pangan yang meningkat," jelasnya.
Penurunan harga komoditas terjadi pada daging ayam ras, cabai rawit, tomat, serta ikan tongkol dan udang basah, harga turun karena produksi warga lokal meningkat dan pasokan dari daerah panen di Jawa dan Sulawesi masuk ke pasar Kabupaten Penajam Paser Utara.
inflasi di Kabupaten Penajam Paser Utara dari kenaikan harga beras, buncis, solar, sawi hijau, serta sigaret kretek mesin, di mana harga beras dan rokok naik karena biaya logistik dan kemasan meningkat, kemudian harga solar naik mengikuti penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi.
Tercatat secara tahunan inflasi Kota Balikpapan 2,75 persen year on year (yoy), kemudian inflasi Kabupaten Penajam Paser Utara 2,33 persen (yoy), berada di bawah inflasi nasional 3,08 persen (yoy) dan inflasi gabungan empat kota di Provinsi Kalimantan Timur 3,04 persen (yoy) demikian Robi Ariadi.
Pewarta: Nyaman Bagus Purwaniawan/Novi AbdiEditor : M.Ghofar
COPYRIGHT © ANTARA 2026