Balikpapan (ANTARA) - Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Kalimantan Timur (Kaltim) Inspektur jendral Polisi (Irjen Pol) Endar Priantoro menyebut komunitas pengemudi ojek online (ojol) mitra strategis kepolisian dalam memberikan informasi cepat, jika terjadi kemacetan, kecelakaan, maupun potensi gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas).
"Pengemudi ojol memiliki mobilitas tinggi dan sebaran yang merata, hingga ke permukiman dan kawasan produktif kota," ujar Kapolda Endar Priantoro ketika ditanya menyangkut melibatkan ojol di Kota Balikpapan, Provinsi Kaltim, Rabu.
Sehingga membuat komunitas pengemudi ojol menjadi mitra strategis kepolisian dalam memberikan informasi cepat, lanjut dia, jika terjadi kemacetan, kecelakaan, maupun potensi gangguan kamtibmas.
Keamanan dan ketertiban bukan hanya tugas polisi saja, tetapi tanggung jawab bersama seluruh lapisan masyarakat, dan pengemudi ojol adalah kelompok yang setiap hari berada di lapangan, sehingga memiliki posisi sangat penting sebagai mitra informasi awal bagi kepolisian.
Polda Kaltim menjalankan program kolaboratif menjadi bagian dari strategi penguatan deteksi dini dan respon cepat terhadap situasi lapangan, terutama di ruas-ruas jalan dan titik rawan aktivitas publik dengan melibatkan komunitas pengemudi ojol
Sedikitnya 700 orang pengemudi ojol di Kota Balikpapan dilibatkan dalam program
ojol kamtibmas, kata dia, sebagai upaya memperkuat pemeliharaan kamtibmas di wilayah hukum kepolisian setempat.
Program tersebut terintegrasi Program Patroli, Pengamanan, dan Pelayanan Masyarakat Terpadu (Pamapta), yang sebelumnya diluncurkan Polda Kaltim sebagai sistem peningkatan respon langsung di tempat (on-the-spot) terhadap laporan masyarakat.
Pola kerja sama tidak hanya menjadi sarana komunikasi lapangan, tetapi juga pelibatan warga dalam mencegah potensi gangguan keamanan sebelum berkembang lebih besar.
"Ojol menjadi lapisan informasi awal, Pamapta menjadi eksekusi cepat di lapangan," jelasnya.
“Konsepnya mempersempit ruang gangguan dengan deteksi dini, dan informasi dari ojol kami terima lebih cepat, respon kepolisian juga otomatis lebih cepat,” ucapnya.
Polda Kaltim juga memberikan dukungan bentuk 10.000 voucher konsumsi senilai Rp5.000 dibagikan kepada ojol, dan setiap
pengemudi menerima 12 voucher yang dapat digunakan untuk membeli makanan ringan atau minuman di kedai mitra.
Kemudian juga disiapkan 700 voucher servis ringan senilai Rp150.000 untuk perawatan kendaraan di bengkel rekanan.
Program tersebut tidak hanya menyentuh perlindungan kamtibmas, tetapi juga mendorong geliat sektor ekonomi kecil, Polda Kaltim menggandeng pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM) kedai dan bengkel agar manfaat bantuan berputar kembali di lingkungan masyarakat.
“Nilainya terlihat kecil, tapi jumlahnya besar dan tersebar, serta dampaknya terasa bagi UMKM, jadi kamtibmas dan ekonomi UMKM bergerak,” ungkapnya.
Peluncuran ojol kamtibmas tahap awal difokuskan di Kota Balikpapan, menjadi percontohan (pilot project), karena kota yang dikenal Kota Minyak itu menjadi pusat mobilitas warga, jalur ekonomi, dan pintu masuk utama aktivitas regional.
Setelah mekanisme program tersebut berjalan baik melalui evakuasi teknis, selanjutnya bakal diluncurkan ke seluruh kabupaten/kota di Provinsi Kalimantan Timur, demikian Endar Priantoro.
