Balikpapan (ANTARA) - Bimbingan belajar menjadi salah satu dari sejumlah penyebab inflasi di Balikpapan. Kenaikan tarif layanan ini tercatat memberi andil terhadap inflasi kelompok pendidikan pada Juni 2025, karena meningkatnya permintaan menjelang tahun ajaran baru dan seleksi masuk perguruan tinggi.

Menurut Bank Indonesia Balikpapan, Selasa, lonjakan permintaan terhadap kelas privat dan program intensif mendorong penyedia jasa menaikkan tarif. Beberapa lembaga bimbingan belajar di kota ini mencatat peningkatan jumlah peserta sejak awal Juni, terutama untuk jenjang SMA dan persiapan UTBK (Ujian Tulis Berbasis Komputer).

Dari sejumlah iklan bimbingan belajar yang mudah ditemukan secara daring, tarif program intensif di Balikpapan berkisar antara Rp3 juta hingga Rp8 juta per paket, tergantung durasi, jumlah peserta, dan fasilitas yang ditawarkan. Kelas privat dengan sistem hybrid menggabungkan tatap muka dan daring menjadi pilihan utama bagi banyak orang tua yang menginginkan fleksibilitas sekaligus intensitas belajar.

Program intensif biasanya ditujukan bagi mereka yang ingin masuk ke program studi atau jurusan dengan tingkat persaingan tinggi, seperti kedokteran, teknik, atau sekolah kedinasan. Untuk tingkat pendidikan yang lebih rendah, harga jasanya juga lebih murah, antara Rp1,5–3 juta per semester, atau Rp250–500 ribu per bulan.

“Sebagai orangtua, kita anggap investasilah,” kata Henny, warga Sepinggan. Anak Henny yang murid SMP lanjut ke bimbingan belajar di sore hari.

Secara keseluruhan, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan Robi Ariadi memaparkan inflasi Kota Balikpapan pada Juni 2025 tercatat sebesar 0,82 persen (mtm), dengan inflasi tahunan sebesar 1,77 persen (yoy). Angka ini masih berada dalam rentang sasaran inflasi nasional (2,5 persen ±1 persen), namun lebih tinggi dibanding inflasi gabungan empat kota IHK (Indeks Harga Konsumen) di Kalimantan Timur yang tercatat 1,62 persen (yoy).

Selain bimbel, komoditas lain yang menyumbang inflasi di Balikpapan antara lain angkutan udara, beras, bahan bakar rumah tangga, dan kacang panjang. Kenaikan harga tiket pesawat dipicu oleh tingginya permintaan selama libur panjang Idul Adha yang awalnya jatuh pada akhir pekan. Sementara itu, harga beras dan sayuran seperti kacang panjang naik karena pasokan yang terhambat akibat hujan.

Namun demikian, di seberang Balikpapan, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) justru mengalami deflasi alias penguatan nilai uang sebesar 0,22 persen (mtm) pada periode yang sama. Penurunan harga daging ayam ras, ikan tongkol, dan sayuran seperti sawi hijau menjadi penyumbang utama deflasi di wilayah tersebut. PPU dikenal sebagai daerah penghasil, dengan sawah-sawah yang luas, peternakan aktif, dan kampung-kampung nelayan di pesisir timurnya.

Robi menegaskan, Bank Indonesia Balikpapan bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) terus memantau komoditas strategis, kerja sama antar daerah, serta pelaksanaan operasi pasar dan gelar pangan murah, termasuk menggelar Program Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP), untuk menjaga stabilitas harga di Balikpapan, Paser, dan Penajam Paser Utara.

Di tengah dinamika harga dan kebutuhan, keseimbangan antara konsumsi dan strategi tetap menjadi kunci menjaga daya beli masyarakat. 



Pewarta: Novi Abdi
Editor : Rahmad

COPYRIGHT © ANTARA 2026