Upaya pemerintah dalam melakukan peningkatan kesejahteraan para petani dituntut lebih. Harus ada inovasi sehingga petani tidak mudah dibodohi atau dimanipulasi oleh oknum tertentu.
Anggota DPRD Kaltim Muspandi mengatakan, selama ini petani hanya terpaku pada sistem atau tata cara bertani model lama. Padahal, sekarang ini para petani dituntut lebih kreatif dan lebih punya wawasan dalam hal meningkatkan produktivitas dan kualitas produknya.
"Perlu revolusi cara bertani yang lebih modern. Termasuk pengelolaan lahan, mekanisme pertanian, solusi irigasi, jaminan sosial, sampai pengembangan kelembagaan antar petani," ungkapnya.
Legislator Partai Amanat Nasional (PAN) ini menambahkan, dalam merealisasi program modernisasi pertanian ada beberapa tahapan yang harus dilakukan. Di antaranya ialah tahapan fundamental. Yaitu konsolidasi pengelolaan lahan sempit dan perluasan lahan baru, mekanisasi pertanian, serta pengembangan irigasi.
“Di sisi teknis dibutuhkan modernisasi pertanian alat dan mesin pra-tanam, tanam, panen, pascapanen, hingga pengolahan hasil. Sehingga, terjadi percepatan dan penghematan biaya produksi, keseragaman, tanam, panen, dan pasca panen,†urainya. Kemudian ia melanjutkan, guna memperkuat struktur program, diperlukan modernisasi jaminan sosial mulai dari asuransi gagal panen, jaminan hari tua, jaminan kesehatan, dan jaminan sosial lainnya,†katanya.
Tujuannya, kata Muspandi, memosisikan petani sebagai barisan terdepan dalam mengambil risiko. Sebab sektor pertanian sangat rawan risiko, seperti perubahan iklim atau terserang penyakit dan hama.
Belum lagi masalah bantuan seperti alat pertanian, mesin perontok padi, perajang serba guna untuk peternakan, mesin pemipil jagung serta traktor tangan. Petani modern harus memahami bagaimana alurnya agar bantuan itu bisa benar-benar efektif mereka gunakan. Bukannya menguap atau disalahgunakan dengan mengatasnamakan kebutuhan mereka.
"Seluruh elemen pemerintah harus bersinergi dalam mengelola modernisasi ini. Agar, paradigma petani yang terkesan menjadi pilihan terakhir masyarakat luas dalam menggantungkan nafkah tidak lagi terjadi di masa mendatang. Sebaliknya justru menjelma menjadi salah satu profesi yang populer," tutupnya. (Humas DPRD Kaltim/tos/dhi/oke)
Editor : Rahmad
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.