Selasa, 23 Mei 2017

Hajah Emilia, "Kartini" Pemasok BBM Hulu Sungai Mahakam

id Hajah Emilia, Hj Emilia, pengusaha BBM, wanita pengusaha, hulu mahakam
Hajah Emilia,
Hajah Emilia saat berada di speedboat yang membawanya menuju Long Apari, Mahakam Ulu, beberapa waktu lalu. (ANTARA Kaltim/Novi Abdi)
Hj Emilia tidak pernah kapok atau merajuk, karena merasa melayani keluarganya sendiri
Tanpa disadarinya, Hajah Emilia turut menciptakan sejarah di negeri ini, karena kerja kerasnya mengatur pengangkutan bahan bakar minyak hingga ke Long Apari di Hulu Sungai Mahakam, Kalimantan Timur, membuat program BBM satu harga yang dicanangkan pemerintah bisa terwujud.

Kini harga premium di Long Apari, Kabupaten Mahakam Ulu, di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Kompak (SPBK) di Kampung Tiong Ohang, pusat Kecamatan Long Apari, sama dengan harga premium di Balikpapan, tempat asal bahan bakar itu, yaitu Rp6.450 per liter. Demikian juga minyak solar yang sama Rp5.150/liter.

"Apa yang kami lakukan sebenarnya hanya memindahkan," ujar Bu Haji, panggilan akrab perempuan pengusaha berusia 45 tahun itu.

SPBK itu dioperasikan Hj Emilia bersama suaminya Haji Syahdan dengan mendirikan perusahaan PT Bukit Indah Berkah.

Namun, memindahkan BBM dari Samarinda ke Long Apari di hulu Sungai Mahakam yang belum memiliki infrastruktur memadai adalah sebuah perjuangan sangat berat.

Belum ada jalan darat yang sudah jadi di wilayah yang berdekatan dengan perbatasan negara tetangga Malaysia itu, sehingga sungai menjadi sarana utama pengangkutan.

Kemudian, karena kondisi sungai, BBM tidak bisa diangkut sekali jalan. Perlu berganti-ganti kapal agar BBM bisa sampai selamat hingga Long Apari yang berjarak lebih kurang 850 kilometer barat laut Kota Balikpapan.

Berganti-ganti moda angkutan itu membuat risiko kehilangan di tengah jalan juga meningkat.

"Umumnya memang sungai terlihat tenang begitu. Tapi, antara Long Pahangai hingga Long Apari ada Riam panjang dan ada Riam Udang," tutur Emilia.

Riam atau jeram itu biasa membalikkan perahu atau speedboat yang tidak kuat melawan arus. Pada masa lalu, dalam kejadian itu biasa pula terjadi korban jiwa dari penumpang perahu, ketika air sungai tinggi dan musim hujan.

Ketika musim kemarau dan air surut, kesulitan pengangkutan barang tidak berkurang, karena Sungai Mahakam menyempit dan batu-batu besar bermunculan.

Jeram memang menjadi tidak berbahaya, tetapi membuat orang harus bekerja keras melewatinya, di mana muatan perahu diturunkan dan diangkut dengan tenaga manusia melewatinya. Bahkan perahunya sendiri kerap kali didorong dan ditarik ke hulu.

"Syukurlah sekarang mesin-mesin longboat atau speedboat sudah semakin kuat, sehingga sudah jarang ada perahu terbalik karena tidak kuat melawan arus," lanjut Emilia.

Melayani Saudara Sendiri

Kenapa Hajah Emilia mau bersusah payah menjual BBM di kampung yang lokasinya jauh dan menantang risiko tinggi itu? Jawabnya ternyata sederhana, karena dia lahir dan dibesarkan di Long Iram, Kabupaten Kutai Barat, sebuah kampung di tepi Sungai Mahakam.

Menurut Emilia, kampungnya itu sebenarnya cukup terkenal, bahkan sejak zaman penjajahan Belanda sebagai satu kampung besar di tepi Sungai Mahakam.

Di kampung itu juga menumpang lahir Siswono Yudhohusodo, Menteri Pertanian kabinet era Presiden Soeharto dan pernah mencalonkan diri menjadi wakil presiden bersama calon presiden Amien Rais.

Long Iram kira-kira berjarak dua jam ke arah hulu dari Pelabuhan Tering dekat Melak, Kutai Barat. Emilia dan saudara-saudaranya tumbuh besar dan bersekolah di kampung itu.

"Kalau terang bulan, kami main petak umpet. Kalau musim kemarau dan kondisi sungai sedang surut, saya ikut mendulang emas," ceritanya.

Beranjak remaja, Emilia memutuskan merantau ke Samarinda, ibu kota Provinsi Kaltim, hingga menikah dengan Syahdan, yang juga perantauan asal Nusa Tenggara Barat.

Keluarga ini hidup dengan menjadi pedagang dan melayani pasar yang sangat dikenal Emilia, kampung-kampung di sepanjang Sungai Mahakam.

"Kami mulai dengan bisnis sembako," kata Haji Syahdan, menambahkan.

Lalu, karena kesulitan BBM selalu terjadi di Hulu Mahakam, keluarga ini juga tertarik turun ke bisnis minyak. Suami istri ini pun berbagi tugas, bisnis BBM sepenuhnya dikelola Emilia, sementara sembako diurus suaminya.

"Dulu biasa dia mengawasi pembongkaran BBM sambil menggendong anak kami yang bungsu atau sambil menyuapi makan," tutur Haji Syahdan tentang istrinya.

Kesibukan itu membuat Emilia tidak selalu sempat memasak buat keluarganya dan lebih banyak mengandalkan warung langganannya.

"Dapur kami di warung. Hitung-hitung bagi rezeki dengan orang lain," tambahnya.

Maka, sarapan nasi kuning atau lontong didatangkan dari warung langganan. Begitu pula makan siang di warung dan makan malam bisa jadi beli dari warung juga. Anak-anak mereka yang sudah terbiasa dengan keadaan itu tidak pernah protes.

Dari kegiatan bisnis itu juga Hj Emilia sering berpergian, terutama ke Hulu Mahakam. Alamat resmi mereka di Samarinda, namun dalam sebulan lebih kurang dua minggu mereka ada di Long Apari, di Ujoh Bilang, dan di perjalanan.

Di Long Bagun, sekitar empat jam perjalanan dari Hulu Tering, Hj Emilia mengawasi pembongkaran 200 ribu liter BBM dari kapal tanker jenis LCT yang membawa BBM itu dari Samarinda dalam perjalanan selama dua hari.

Dari kapal, BBM harus dipindahkan ke dalam 1.000 drum berkapasitas masing-masing 200 liter.

"Kapal LCT hanya bisa sampai Long Bagun, setelah itu sungai terlalu surut untuk dilewati. Kita ganti pengangkutan dengan longboat," terang Emilia.

Satu longboat bermesin 3X200 PK bisa diisi 30 drum bensin dan solar. Apabila memulai perjalanan Senin pagi dari Long Bagun, maka baru pada Kamis sore longboat itu akan sampai Long Apari.

Penyebab lamanya perjalanan, apalagi kalau bukan deretan jeram-jeram besar di antara Long Pahangai-Long Apari.

Saat akan melewati jeram-jeram itu, dua pertiga muatan longboat diturunkan dulu di air tenang sebelum Riam Udang, kemudian Longboat maju hingga melewati Riam Panjang.

Di sini, muatan yang sepertiga atau 10 drum tadi diturunkan dulu dan longboat kembali untuk menjemput 10 drum lagi. Begitu diulang hingga seluruh drum bisa dibawa melewati riam yang sangat berbahaya.

"Kadang-kadang dalam perjalanan itu kami kehilangan beberapa drum. Entah jatuh terbawa arus, entah hilang dicuri saat ditinggal. Paling banyak itu pernah hilang sampai 14 drum dalam sekali perjalanan," ungkap Hj Emilia.

Jumlah 14 drum itu sama dengan 2.800 liter atau sudah lebih dari separo muatan truk tangki 5.000 liter dan nilainya lebih kurang Rp18 juta.

Kendati begitu, Hj Emilia tidak pernah kapok atau merajuk, karena merasa melayani keluarganya sendiri dan mengenal hampir semua pembelinya.

Untuk itu, ketika Pertamina akan merealisasikan program satu harga BBM dari pemerintah, ia menyambut sangat antusias.

Emilia bersemangat dan tidak kenal lelah mengurus berbagai keperluan administrasi yang diperlukan ke Pemerintah Kabupaten Mahakam Ulu.

"Sewaktu mau peresmian SPBK di Long Apari, misalnya, kami menghadap Pak Bupati. Berjam-jam menunggu beliau sedang sidak ke kampung-kampung. Menjelang sore akhirnya beliau datang dan kami disilakan masuk ke ruang kerjanya. Karena lama menunggu dan kemudian berbicara agak panjang, saya jadi haus, agak serak dan batuk," ceritanya.

"Di meja tamu di depan kami banyak tersedia minuman dalam kemasan kotak, ada teh, jus buah, juga ada air putih. Tapi, Pak Bupati tak kunjung menyilakan kami mengambil minuman itu hingga kami pamit dan keluar ruangan," imbuh Emilia panjang lebar seraya tertawa.

Memang akhirnya Bupati Mahakam Ulu Bonifasius Belawan Geh tidak bisa memenuhi undangan peresmian itu dan mewakilkannya kepada Asisten I Bidang Sosial dan Pembangunan Sekretaris Kabupaten Mahakam Ulu Lili Kusumawati.

Dari jajaran Pertamina datang langsung General Manager Marketing Operation Region (MOR) VI Pertamina Muhammad Irfan yang terbang dari Balikpapan.

Akhirnya sejak 11 Februari 2017 setelah 71 tahun Indonesia merdeka, harga BBM premium dan solar di daerah otonomi baru Mahakam Ulu sama dengan harga di Balikpapan.

"Semoga ini jadi berkah bagi kami," kata Emilia, kartini masa kini di bidang bisnis BBM untuk daerah pedalaman Kaltim itu.

Ia dan suaminya juga aktif dalam kegiatan sosial, menjadi donatur beberapa panti asuhan dan majelis taklim di Samarinda.

"Hidup itu harus seimbang dunia dan akhirat. Toh harta tak dibawa mati, tapi hidup di dunia ini perlu harta, termasuk untuk beramal," ucap Hj Emilia. (*)

Editor: Didik Kusbiantoro

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga

Generated in 0.0259 seconds memory usage: 0.45 MB