Mereka mengemban dua misi sekaligus, yaitu menjaga pos-pos perbatasan, dan mengajar di sekolah-sekolah.
Sebagai prajurit yang setia pada bangsa dan negara serta agama, tentunya prajurit TNI AD tidak diragukan lagi komitmennya terhadap keutuhan NKRI. Seperti yang ditunjukkan Kopral Dua (Kopda) Suanta Purwadi.
Prajurit Batalyon 413 Kostrad ini bertugas menjaga perbatasan mulai April 2012, merangkap sebagai pengajar pada salah satu sekolah filial (kelas jauh) dari SD Negeri 012 Seimenggaris, Kecamatan Seimenggaris, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Timur.
Putra kelahiran Blora, Jateng, 4 Oktober 1981, yang sudah memiliki satu putri ini mengatakan, sebelum bertugas di Kabupaten Nunukan, dia berlatih mengajar pada salah satu SD Negeri di Sukoharjo Jawa Tengah.
Suanta ditugaskan di Pos Bersama TNI dengan Tentara Darat Diraja Malaysia. Dia mengajar pada hari Senin hingga Sabtu, dan setiap Sabtu sore kembali ke posnya untuk menjalankan tugas pokok sebagai penjaga keamanan perbatasan.
Prajurit alumnus Pendidikan Tamtama tahun 2000 ini, mengaku, mengajar ternyata sangat bermakna dalam hidupnya.
Menceritakan pengalamannya, ia merasa sangat terhibur dengan keriangan anak muridnya yang sesekali melontarkan lelucon di hadapannya.
Sambutan yang sangat familiar dari orangtua murid dan warga setempat, juga membuat dirinya betah mengajar.
"Saya betah mengajar, meskipun murid-murid saya belajar di tempat sangat darurat, di kolong rumah panggung warga dengan ruang kelas bersekat papan seadanya," katanya.
Ketika hendak pulang ke pos jaga, yang berjarak sekitar 45 kilometer dari tempatnya mengajar, Suanta mengaku menggunakan sepeda motor pinjaman dari warga setempat.
"Kalau hari-hari sekolah, saya nginap di rumah kosong yang sudah disiapkan. Saya baru pulang pas hari Sabtu sehabis ngajar. Besoknya Minggu sore kembali lagi ke lokasi tempat mengajar," ujar anggota
TNI-AD yang juga pernah ditugaskan sebagai Satgas Pamtas Indonesia-Papua Nugini di Provinsi Papua tahun 2003.
Sewaktu ditugaskan di Papua, Suanta mengaku ditugaskan juga menjadi pengajar di sekolah perbatasan di sana.
Di Nunukan, Suanta yang ditugaskan mengajar di sekolah di Kampung Perum Desa Tabur Lestari tersebut, sebenarnya tidak sendiri. Tugas yang sama juga diemban temannya, Prajurit Satu (Pratu) Danang.
Menurut Suanta, kadangkala ketika sedang mengajar, dia terkena air kencing dari atas rumah. "Bagitulah suka-dukanya. Sasananya memang sudah demikian, risiko belajar-mengajar di bawah kolong rumah panggung warga," katanya.
Kelas jauh tempatnya mengajar terdiri atas tiga kelas dengan jumlah murid sebanyak 50 orang, yaitu Kelas I, II dan III. Meja dan bangku belajarnya pun merupakan bantuan atau swadaya masyarakat setempat.
Fasilitas mengajar lainnya, seperti buku hampir tidak ada, kecuali pegangan guru. Karena itu, metode mengajar yang digunakannya setiap hari adalah menulis di papan tulis lalu murid menyalin ke buku pelajaran.
"Meskipun sarana dan prasarana belajar di sekolah itu sangat memprihatinkan, tapi hal itu harus diterima dan dimaklumi," ujar Suanta, saat ditemui di rumah Ketua RT 13, Desa Tabur Lestari, Kecamatan Seimenggaris.
Selain tidak memiliki sarana prasarana belajar, sekolah tersebut hanya diajar oleh empat orang guru (di luar Suanata dan rekannya), yang semuanya masih berstatus honorer, tanpa pernah mendapatkan gaji dari pemerintah.
Guru-guru di sekolah itu sekadar mengabdikan diri, hanya karena keprihatinannya terhadap masa depan anak-anak di kampung itu.
Kadangkala juga, guru honorer tidak masuk mengajar karena mereka harus bekerja di kebunnya demi menutupi kebutuhan keluarganya sehari-hari.
Prajurit yang hobi berenang ini, menuturkan, rata-rata usia murid di sekolah tempatnya mengajar antara 7-11 tahun. Kemungkinan ada yang terlambat sekolah, berhubung tidak adanya sekolah yang dekat di kampung itu, kecuali harus menyeberang sungai dengan menggunakan perahu katinting dan berjalan kaki di tengah-tengah perkebunan kelapa sawit. Itulah sekolah terdekat dari Kampung Perum yang juga merupakan sekolah induk dari kelas jauh tempat anggota TNI AD ini mengajar.
Suanta menceritakan, setiap hari dia mengajar untuk semua mata pelajaran, kecuali bidang studi agama yang punya guru khusus.
"Yang membuat saya bersemangat, anak-anak di wilayah perbatasan Indonesia-Malaysia itu memiliki antusiasme yang tinggi dalam menuntut ilmu," katanya.
Padahal, sebelumnya dia mengaku sempat pesimistis, pertama kali menginjakkan kakinya di sekolah itu, yang kondisinya sangat jauh dari memadai atau serba kekurangan.
Agar murid-murid lebih memacu diri belajar, Suanta yang dipanggil "Pak Combet" oleh murid-murid dan orangtua murid, terus menyemangati anak didiknya dengan menjanjikan hadiah apabila nilai mata pelajarannya tinggi.
Suatu ketika, Pratu Danang mengalami sakit. Tanpa diduga, warga setempat turun tangan mencarikan dan memberikan obat-obatan tradisional, karena belum ada balai pengobatan di kampung itu.
"Yang tak mungkin bisa terlupakan, dengan rasa persaudaraan ibarat keluarga sendiri, warga setempat berbondong-bondong berkunjung ke rumah tinggalnya dengan membawa berbagai macam makanan dan buah-buahan. Mereka meminta agar saya mengajar selamanya di sekolah itu," demikian Suanta. (*)
Pewarta: Muhammad Rusman: Arief Mujayatno
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.