"Berita itu sangat penting, namun keselamatan jauh lebih penting", kata Subhan dalam seminar yang bertema "Keselamatan Jurnalis dalam Liputan Berisiko Tinggi" yang diadakan oleh Serikat Pekerja ANTARA di Auditorium Adhyana Wisma Antara Jakarta, Selasa (12/6).
Seminar yang dihadiri oleh banyak narasumber yang berasal dari berbagai kalangan tersebut, membahas tentang keselamatan jurnalis dalam liputan yang berisiko tinggi yang belajar dari peristiwa jatuhnya pesawat Sukhoi Superjet 100 yang menewaskan 45 penumpangnya di kawasan Gunung Salak Bogor pada 9 Mei.
Subhan juga mengatakan, dalam peristiwa operasi SAR, jurnalis memiliki peran yang sangat penting, yakni sebagai penyampai informasi kepada masyarakat. Namun karena kurangnya persiapan maka banyak jurnalis yang justru tersesat saat liputan.
"Seharusnya jurnalis itu meliput tapi akhirnya malah diliput," kata Subhan.
Dalam seminar tersebut, dia juga menyampaikan bahwa saat terjadi suatu bencana maka jurnalis diharapkan bisa merespon dengan cepat dan mengumpulkan bahan berita dengan akurat. Namun karena Indonesia termasuk dalam kawasan yang berada di bawah pusaran bencana maka para jurnalis harus bisa mengenali jenis-jenis bencana terlebih dahulu.
"Indonesia termasuk kawasan yang berada di bawah pusaran bencana di antaranya jalur 'ring of fire' atau cincin api, eksploitasi sumber daya alam, kecelakaan, kebakaran dan konflik. Maka dari itu jurnalis harus bisa mengenali dulu jenis-jenis bencananya", ungkapnya.
Jenis-jenis bencana tersebut di antaranya gempa, gelombang laut tsunami, badai dan gunung meletus yang termasuk ke dalam bencana alam. Penggundulan hutan yang termasuk ke dalam bencana akibat perbuatan manusia.
Kecelakaan pesawat, kapal laut, mobil dan kereta api yang termasuk dalam bencana kecelakaan. Pencemaran lingkungan yang termasuk ke dalam bencana teknologi serta bencana konflik, perang dan terorisme.
Setelah mengetahui jenis bencana, maka jurnalis harus melakukan pelatihan dan persiapan peliputan bencana serta memiliki kesiapan fisik dan mental. Sebelum terjun ke lokasi bencana yang akan diliput, jurnalis harus mencari informasi tentang lokasi yang meliputi kondisi alam, suhu dan pemukiman penduduk terdekat.
Setelah itu, mengetahui akses lokasi apakah bisa diakses menggunakan kendaraan roda dua atau empat, perahu, kapal laut, helikopter dan pesawat terbang. Mengetahui nomor kontak warga setempat atau pihak yang berwenang serta menyiapkan alat pribadi, alat kerja seperti handphone, netbook, handy talky dan alat keselamatan seperti senter, kompas, pelampung, masker dan rompi antipeluru.
Subhan juga mengatakan dengan adanya seminar ini diharapkan ke depannya jurnalis akan lebih memperhatikan keselamatan dirinya yang harus dipersiapkan dari sekarang.
"Dengan adanya seminar ini saya harap ke depannya para jurnalis bisa lebih memperhatikan keselamatan jiwanya yang harus dipersiapkan dari sekarang," katanya.
Seminar tersebut dihadiri Dirjen Perlindungan Jaminan Sosial Kemensos Dr Andi ZA Dulung yang mewakili Menteri Sosial Salim Segaf Al-Jufri, anggota komisi IX DPR Arif Minardi, Direktur Utama Jamsostek Hotbonar Sinaga, Corporate Public and Internal Affairs Division Manager PT Indocement Alexander Frans, Kepala Basarnas Daryatmo, Ketua Mapala UI Muhammad Ismatullah serta wartawan senior TVRI dan pegiat alam bebas Achmad Effendy Soen.
Kepala Basarnas Marsekal Madya TNI Daryatmo menawarkan peluang bagi para wartawan untuk mengikuti pelatihan bersama lembaga tersebut sehingga wartawan memiliki pengetahun dasar mengenai operasi-operasi SAR yang bakal diikutinya. (*)
Pewarta: Arnaz F Firman (ANTARA Jakarta)Editor : Arief Mujayatno
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.