"Saat ini untuk memenuhi konsumsi protein hewani sekitar 65 persen masih dipenuhi dari daging ayam, dan sisanya dari daging sapi, sedangkan kebutuhan daging sapi masih banyak didatangkan dari luar daerah," kata Kepala Dinas Peternakan Kalimantan Timur (Kaltim) Ibrahim di Samarinda, Jumat.
Seiring dengan semakin intensifnya Pemprov Kaltim meningkatkan dan mendorong masyarakat dalam memelihara sapi, maka diyakini peternak sapi di Kaltim akan semakin berkembang, sehingga ke depan tidak perlu mendatangkan daging dari luar daerah.
Dia melanjutkan, guna mencapai swasembada daging pada 2014, pihaknya telah melakukan berbagai kegiatan, di antaranya menekan angka kematian ternak dan meningkatkan angka kelahiran, juga memberi insentif kepada peternak yang mempertahankan sapi betina dan bunting agar tidak dijual.
Dia mencontohkan, untuk Desa Tanjung Harapan, Samboja, Kutai Kartanegara dapat diandalkan karena tidak menjual sapi betina, bahkan desa itu telah sukses menerapkan sistem kawin suntik dan pengembangan ternak sapi.
Selain itu, untuk mencapai swasembada daging, Kaltim menggulirkan sejumlah program unggulan, di antaranya revitalisasi peternakan dengan program terpadu sawit-sapi, dan integrasi sapi-tanaman pertanian.
Di Kabupaten Paser telah berhasil melakukan program integrasi sapi-sawit, yakni penyelarasan program pengembangan perkebunan sawit dengan peternakan sapi.
Target swasembada daging itu bukan hanya daging sapi dan kerbau, tapi juga ternak lainnya, yakni kambing, ayam, bebek dan lainnya.
Dia juga mengatakan, bahwa pengembangan usaha peternakan di Kaltim sangat tepat untuk mengentaskan kemiskinan, sehingga menjadi salah satu program prioritas daerah karena dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.
Upaya lain yang dilakukan untuk menuju swasembada daging adalah, melakukan pembinaan kepada para kelompok ternak, tujuannya adalah agar mampu meningkatkan kualitas dan produktivitas hasil ternak melalui sentra pembibitan, termasuk bantuan pemberian bibit sapi.
Program bantuan bibit sapi satu kepala keluarga mendapat lima ekor sapi, sebenarnya sudah berjalan sejak 2009, khususnya di Kabupaten Paser, Panajam Paser Utara (PPU) dan Samboja-Kutai Kartanegara. Program itu hingga kini terus bergulir untuk petani lainnya. (*)
Pewarta: M Ghofar: Arief Mujayatno
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.