Samarinda (Antaranews Kaltim) - Bank Indonesia menilai bahwa inflasi yang terjadi di Provinsi Kalimantan Timur pada Juli 2018 sebesar 0,92 persen relatif terkendali, meskipun naik ketimbang bulan sebelumnya dan angkanya masih di atas inflasi nasional.

"Inflasi Kaltim pada Juli meningkat ketimbang Juni yang tercatat 0,82 persen. Bahkan tingkat inflasi Kaltim tercatat lebih tinggi ketimbang nasional yang hanya 0,28 persen," ujar Kepala BI KPw Provinsi Kaltim Muhammad Nur di Samarinda, Rabu.

Kenaikan inflasi Kaltim terutama disebabkan kelompok bahan makanan yang memiliki andil sebesar 0,19 persen dan mengalami kenaikan sebesar 0,94 persen.

Secara tahunan, inflasi Kaltim pada Juli tercatat 3,42 persen dengan tingkat inflasi kalender 3,03 persen.

Tingkat inflasi tahunan Kaltim Juli 2018 naik ketimbang sebelumnya yang tercatat 2,60 persen, berada di atas inflasi nasional yang sebesar 3,18 persen.

Dilihat dari komponen pembentuknya, lanjut Nur, inflasi didorong kelompok inti, yaitu tarif pulsa ponsel dan harga mobil dengan andil masing-masing 0,16 persen dan 0,08 persen.

Kenaikan tarif pulsa ponsel terjadi di hampir 82 kota di Indonesia dan menjadi kontibutor utama penyumbang inflasi pada Juli 2018.

Sementara inflasi pada kelompok volatile foods didorong oleh kenaikan harga tomat sayur dengan andil 0,08 persen dan daging ayam ras berandil 0,07 persen.

Untuk kelompok administered prices berupa angkutan udara, menjadi penyumbang utama inflasi dengan andil 0,08 persen.

"Berdasarkan kota pembentuknya, Samarinda berinflasi 0,83 persen atau 2,87 persen, kemudian di Balikpapan sebesar 1,03 persen atau 4,15 persen)," tuturnya.

Komoditas penyumbang inflasi yang memiliki andil dominan di Samarinda adalah tarif pulsa ponsel dan daging ayam ras, sedangkan di Balikpapan adalah harga mobil dan tarif angkutan udara.

Ia menambahkan, BI Kaltim dan pihak terkait yang tergabung dalam Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) terus memantau pergerakan inflasi dan perekonomian, baik domestik maupun eksternal.

Sejumlah kegiatan telah dilakukan guna mengantispasi kenaikan harga yang berkelanjutan, seperti operasi pasar maupun inspeksi mendadak ke pasar tradisional dan pasar modern, termasuk memantau ketersediaan stok di pasar induk dan distributor utama.

"Hal ini dimaksudkan untuk memantau pergerakan harga dan memastikan ketersediaan stok terjamin, seiring harga pangan yang masih tinggi, terutama harga daging ayam ras," ucap Nur.

Ia juga mengatakan bahwa BI secara konsisten terus melakukan asesmen terkait perkembangan perekonomian dan inflasi terkini, guna menuju sasaran inflasi akhir tahun sebesar 3,5 plus minus 1 persen. (*)

Pewarta: M.Ghofar
Editor : Didik Kusbiantoro

COPYRIGHT © ANTARA 2026