Balikpapan (ANTARA) - Pertamina Patra Niaga menggelar program Berdaya Berkolaborasi Inklusif Inovasi dan Karya (BERBISiK) untuk masyarakat di sekitar Kilang Balongan di Indramayu, Jawa Barat. Program ini diharapkan juga bisa diterapkan di lokasi-lokasi kilang Pertamina lainnya seperti Kilang Balikpapan.
“Meski namanya BERBISiK, tapi justru membawa pesan yang lantang tentang kesetaraan, kemandirian ekonomi, dan inovasi lingkungan,” kata Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth MV Dumatubun, Selasa.
Menurut Roberth, program ini diniatkan untuk mengatasi masalah yang dihadapi warga penyandang cacat tunarungu (tuli) untuk bersekolah, mendapatkan pendidikan, maupun memperoleh pekerjaan di Desa Balongan, Kelurahan Lemahmekar dan Karangmalang.
Program ini juga dirancang untuk mengatasi persoalan sampah dan lingkungan di ketiga kampung tersebut.
Karena itu, BERBISiK dimulai dengan pengembangan keahlian dasar. Peserta dilatih memahami instruksi kerja, bergiliran dalam tugas, membagi peran, serta menyampaikan hasil pekerjaan sebelum masuk ke pelatihan teknis. Karena sebagian peserta adalah tunarungu, pelatihan bahasa isyarat juga diberikan.
“Maka pada tahap ini kita membangun kepercayaan diri para peserta, di mana mereka bisa terlibat, bisa berinteraksi, bisa berkomunikasi,” jelas Roberth yang bertugas di Balikpapan selama masa wabah COVID-19 lampau.
Tahap selanjutnya adalah memandu peserta hingga bisa menjadi profesional dan mampu berwirausaha.
“Dengan demikian, masyarakat tidak hanya menerima manfaat sesaat, tetapi juga memiliki kesempatan untuk tumbuh secara berkelanjutan,” lanjut Roberth.
Hasilnya, lahirlah subprogram seperti Bank Sampah Wiralodra untuk mengatasi permasalahan sampah dan lingkungan di Desa Balongan. Bank sampah ini juga berjalan di Lapas Kelas II-B Indramayu dan dikelola oleh para warga binaan. Selain itu, ada Kedai Kopi Teman Istimewa yang dikelola oleh para tunarungu.
Kedai kopi tersebut, jelas Roberth, menjadi wadah para tunarungu untuk berekspresi, meningkatkan kepercayaan diri, memperkuat kapasitas, serta mengembangkan keterampilan sehingga dapat berdaya secara sosial dan ekonomi.
“Tempat ini juga menjadi ruang inklusi pertama di Indramayu,” ujar Roberth.
Program BERBISIK melibatkan 155 tunarungu dan penyandang kecacatan lainnya, 11 warga kurang mampu, termasuk 32 perempuan, warga lanjut usia, anak-anak yang rawan sosial dan ekonomi, serta 55 warga binaan di Lapas Kelas IIB Indramayu.
Secara keseluruhan, program memberikan dampak positif pada lebih dari 10 ribu penerima manfaat tidak langsung di wilayah Kabupaten Indramayu.
Dalam aspek lingkungan, program mencapai kapasitas mengolah sampah organik hingga 1,8 ton per tahun, yang berarti pengurangan emisi karbon hingga 223.228,8 kilogram CO ekuivalen per tahun dari pengolahan sampah plastik maupun organik. Program ini juga berhasil mengolah minyak jelantah hingga 240 liter per tahun.
Dari sisi ekonomi, penjualan produk hasil olahan solidifikasi sampah plastik menghasilkan omzet lebih dari Rp270 juta per tahun. Kedai Kopi Teman Istimewa dan workshop kreatif mencatat omzet lebih dari Rp220 juta per tahun, sementara pendapatan warga binaan di lapas mencapai Rp74 juta per tahun.
Program BERBISiK juga menjadi salah satu inovasi sosial yang mendukung capaian kinerja lingkungan Kilang Balongan. Unit tersebut kembali meraih Proper Emas pada 2025, yang merupakan penghargaan emas kedelapan bagi kilang itu.
“Kami berharap praktik seperti ini bisa diterapkan di wilayah operasi lain, sehingga masyarakat di sekitar kilang dapat tumbuh bersama dan memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang,” kata Roberth. ***
Pewarta: Novi AbdiEditor : M.Ghofar
COPYRIGHT © ANTARA 2026