Samarinda (ANTARA) - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) menjalankan dua strategi operasional sebagai upaya untuk mencegah ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

"Strategi pertama, pemantauan 24 jam titik panas. Kemudian yang kedua adalah melakukan siaran radio siaga bencana untuk memberikan pembaruan data serta himbauan kepada masyarakat," kata Pelaksana Harian Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kaltim Sugeng Priyanto di Samarinda, Minggu.

Disampaikan Sugeng bahwa pihaknya tengah memproses penetapan status siaga darurat daerah untuk memobilisasi sumber daya dan menggerakkan bantuan pusat seperti helikopter patroli udara.

Menurut dia, percepatan status tersebut mempermudah akses pencairan anggaran darurat serta memaksimalkan pengerahan perlengkapan penanggulangan karhutla dari tingkat nasional ke daerah.

"Berdasarkan hasil kajian risiko bencana terbaru, kami menyoroti lima kabupaten berpotensi tinggi karhutla yakni Paser, Kutai Barat, Kutai Kartanegara, Kutai Timur, dan Berau," sebut Sugeng.

BPBD Kaltim memastikan penanggulangan bencana ini berbasis kolaborasi lintas sektor yang menyatukan pemerintah, korporasi, kelompok masyarakat, unsur akademisi, serta media massa.

Sugeng melanjutkan kalangan pengusaha perkebunan dan kehutanan kini diarahkan berkontribusi langsung, berdampingan dengan masyarakat lokal yang aktif membangun kemandirian melalui Program Desa Tangguh Bencana.

Pihaknya juga menggerakkan personel Tim Reaksi Cepat (TRC) yang telah disiagakan di sepuluh kabupaten dan kota untuk melakukan kaji krisis secara cepat.

Kemudian, kesiapan stok logistik seperti makanan dan kebutuhan khusus bayi juga telah dipastikan aman melalui skema penyaluran bantuan bertajuk Program Kaltim Peduli Bencana.

"Kami mengingatkan seluruh elemen masyarakat di wilayah Kaltim untuk memegang teguh filosofi mitigasi yaitu kita jaga alam, maka alam akan menjaga kita," ucap Sugeng.



Pewarta: Ahmad Rifandi
Editor : M.Ghofar

COPYRIGHT © ANTARA 2026