Samarinda (ANTARA) - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalimantan Timur (Kaltim) mulai meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) seiring telah terdeteksinya sekitar 77 titik panas (hotspot) yang tersebar di sejumlah wilayah itu.

Koordinator Pusdalops BPBD Kaltim Cahyo Kristanto di Samarinda, Rabu, menyatakan pihaknya saat ini tengah menunggu penetapan status siaga bencana hidrometeorologi dari pemerintah provinsi sebagai dasar penguatan penanganan.

“Status siaga masih menunggu SK Gubernur. Regulasinya sedang berproses dan kami berharap dalam waktu dekat sudah ditetapkan,” ujar Cahyo.

Meski status resmi belum turun, kata dia, BPBD Kaltim tetap bergerak melakukan antisipasi, terutama menjelang puncak musim kemarau yang diprediksi terjadi pada Juli hingga September. Kesiapan sarana dan prasarana, seperti mesin pompa air, mulai dipastikan agar respons di lapangan bisa lebih cepat.

Cahyo menekankan kunci utama pengendalian karhutla adalah kolaborasi lintas sektor. Sinergi antara pemerintah daerah, Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH), perusahaan perkebunan, hingga Masyarakat Peduli Api (MPA), sangat krusial.

“Penanganan karhutla tidak bisa dilakukan sendiri. Harus ada kerja sama semua pihak agar lebih efektif,” ujarnya.

Berdasarkan evaluasi tahun 2023 hampir seluruh wilayah Kaltim memiliki tingkat kerawanan tinggi, terutama di kawasan lahan gambut yang mudah terbakar saat kekeringan.

Saat ini titik panas terpantau di Kabupaten Paser, Kutai Barat, Kutai Kartanegara, Kutai Timur, Berau, hingga Kota Bontang.

Meski potensi hujan masih ada, BPBD mengimbau masyarakat untuk tetap waspada dan tidak memicu kebakaran, terutama dengan cara membakar saat membuka lahan.

“Kami minta masyarakat lebih waspada. Jangan membuka lahan dengan cara dibakar karena risikonya sangat besar,” ucap Cahyo.



Pewarta: Arumanto
Editor : M.Ghofar

COPYRIGHT © ANTARA 2026