Samarinda (ANTARA) - Badan Gizi Nasional (BGN) Kalimantan Timur memprioritaskan layanan pengantaran makanan langsung ke rumah demi menjamin asupan nutrisi berkualitas bagi ibu hamil, ibu menyusui, dan balita.
"Metode ini berbeda dengan sekolah karena paket untuk golongan 3B diantar langsung dari pintu ke pintu atau melalui sesi makan bersama di Posyandu sebulan sekali," kata Pendamping Koordinator Regional BGN Kalimantan Timur Sirajul Amin di Samarinda, Minggu.
Program ini menargetkan perbaikan kualitas gizi masyarakat sekaligus menjadi upaya strategis dalam mencegah stunting pada masa kritis 1.000 hari pertama kehidupan.
Mekanisme distribusi makanan bagi penerima manfaat diatur secara terjadwal sebanyak dua kali dalam sepekan yakni setiap hari Senin dan Kamis.
Penyaluran pada hari Senin mencakup makanan siap santap serta dua paket makanan kering seperti roti, telur rebus, atau buah untuk konsumsi hari Selasa dan Rabu.
"Pengiriman paket pada hari Kamis berisi satu porsi makanan siap santap ditambah dua paket makanan kering guna memenuhi kebutuhan gizi sepanjang hari Jumat dan Sabtu," jelas Sirajul.
Standar operasional menetapkan bahwa setiap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) hanya melayani radius pengantaran maksimal 30 menit agar kesegaran makanan tetap terjaga.
Baca juga: BGN percepat target pembangunan 372 SPPG di Kaltim
Petugas lapangan diwajibkan melakukan uji organoleptik secara acak dengan mengamati rupa, mencium aroma, dan merasakan sampel makanan sebelum didistribusikan ke masyarakat.
"Langkah preventif tersebut dilakukan secara ketat untuk memastikan tidak ada kontaminasi benda asing atau tanda-tanda makanan basi yang dapat membahayakan kesehatan penerima," katanya.
Struktur operasional setiap unit pelayanan diperkuat oleh keberadaan tenaga ahli gizi dan akuntan yang bertugas memantau kualitas bahan baku serta proses penyediaan makanan.
Koordinasi intensif dengan pihak terkait terus dilakukan mengingat data sasaran ibu hamil dan balita bersifat sangat dinamis dan berubah lebih cepat dibandingkan data pelajar.
Sirajul mengatakan variasi menu berbasis kearifan lokal Kaltim seperti olahan ikan sungai dan sayuran daerah juga disiapkan agar penyediaan pangan tidak bergantung pada pasokan luar.
Program Makan Bergizi Gratis di Kaltim ini sekaligus membuka lapangan kerja baru dan memberdayakan ekonomi lokal melalui pelibatan UMKM sebagai pemasok bahan mentah di sekitar dapur layanan, dengan potensi serapan mencapai 18.600 orang.
Baca juga: Jumlah SPPG di Kaltim bertambah menjadi 173
