Samarinda (ANTARA) - Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur menerapkan konsep baru pelaksanaan program transmigrasi dengan memprioritaskan warga lokal atau masyarakat berdomisili di Kaltim sebagai penerima manfaat program nasional tersebut.
Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kaltim Rozani Erawadi di Samarinda, Jumat, mengatakan Pemprov Kaltim telah menyiapkan lahan untuk transmigrasi Unit Pemukiman Transmigrasi (UPT) Keladen, Kabupaten Paser, dengan kuota 75 persen untuk warga lokal.
"Arah kebijakan transmigrasi saat ini tidak sekadar memindahkan penduduk dari satu wilayah ke wilayah lain, program ini kini dijadikan instrumen strategis untuk membangun daerah secara inklusif dan berkeadilan," kata dia.
Ia menjelaskan pendekatan ini sebagai bentuk keberpihakan terhadap masyarakat lokal yang selama ini hanya menjadi penonton dalam program transmigrasi.
“Kebijakan ini diambil untuk memastikan keberlanjutan program dan kesejahteraan masyarakat setempat,” ujarnya.
Ia menjelaskan transmigrasi identik dengan arus perpindahan penduduk dari daerah padat, seperti Jawa ke wilayah luar Jawa.
Namun, model lama itu sering memicu kecemburuan sosial, terutama bila warga setempat merasa terpinggirkan dalam program pembangunan.
Dengan menjadikan warga lokal sebagai peserta utama, program ini diharapkan tidak hanya lebih harmonis, tetapi juga lebih efektif karena warga telah memahami karakter wilayah, adat, hingga kondisi geografis.
Ia menjelaskan hal ini penting karena keterikatan emosional dan sosial dengan tanah kelahiran menjadi faktor utama keberhasilan program.
“Dengan keterlibatan warga lokal, kemungkinan lahan ditinggalkan menjadi sangat kecil,” katanya.
Ia mengatakan UPT Keladen tidak dibangun sebagai kantong pemukiman semata.
Pemerintah juga menyiapkan infrastruktur pendukung, seperti pembangkit listrik tenaga surya (PLTS), rumah layak huni, serta lahan produktif yang akan disertifikasi setelah lima tahun.
Komoditas andalan, seperti jagung dan peluang kerja di sektor kelapa sawit, menjadikan kawasan ini sebagai calon pusat pertumbuhan ekonomi baru di Paser.
Selain itu, program pendampingan pascapanen dan bantuan modal setelah dua tahun juga disiapkan dengan tujuan membangun ekosistem wirausaha pertanian yang mandiri.
Dengan seluruh pendekatan baru ini, UPT Keladen digadang-gadang menjadi proyek percontohan bagi model transmigrasi modern di Indonesia.
“Sebuah pendekatan pembangunan yang menjadikan keadilan sosial dan pemberdayaan lokal sebagai pondasi menuju pertumbuhan ekonomi berkelanjutan,” kata Rozani.
