Karena dana tidak cukup sehingga kami menggunakan dana silpa 2012 sebesar Rp2 miliar. Biaya yang sudah kami keluarkan sudah mencapai Rp7 miliar. Terus terang, setiap bulan RSUD ini masih rugi,â€Penajam (ANTARA Kaltim) - Manajemen Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kabupaten Penajam Paser Utara, sejak Januari hingga September 2013 masih mengalami kerugian Rp4 miliar yang disebabkan pendapatan dan biaya operasional yang dikeluarkan tidak sebanding dalam setiap bulan.
Direktur RSUD Kabupaten Penajam Paser Utara, Grace Marikurat, Selasa mengungkapkan, sejak Januari 2013, biaya yang harus dikeluarkan untuk mengoperasikan rumah sakit ini mencapai Rp11 miliar.
"Padahal, pendapatan yang diperoleh hanya sekitar Rp5 miliar," katanya
Bahkan, untuk operasional RSUD Penajam kata Grace Marikurat manajemen harus menggunakan dana sisa lebih perhitungan anggaran (silpa) tahun lalu sebesar Rp2 miliar.
.
“Karena dana tidak cukup sehingga kami menggunakan dana silpa 2012 sebesar Rp2 miliar. Biaya yang sudah kami keluarkan sudah mencapai Rp7 miliar. Terus terang, setiap bulan RSUD ini masih rugi,†ungkapnya.
Permasalahan itu lanjut Grace Marikurat sudah pernah disampaikan ke DPRD Penajam Paser Utara saat dilakukan pertemuan.
Pada pertemuan tersebut pihak manajemen menyampaikan bahwa secara hitung-hitungan bisnis RSUD belum bisa menguntungkan, karena belum berimbang antara pendapatan dan biaya yang dikeluarkan.
Alasannya lanjut dia, karena untuk mengoperasikan RSUD masih mengandalkan pembayaran dari Jaminan Kesehatan Daerah (Jamkesda) yang merupakan klaim dari pembayaran pasien yang berobat di rumah sakit.
Sementara, pendapatan dari pasien umum tambah Grace, masih minim karena terbatasnya fasilitas yang dimiliki RSUD. bahkan sejumlah fasilitas belum dioperasikan, salah satunya ruang VIP.
“Jika fasilitas RSUD ini sudah beroperasi secara penuh, kami yakin sudah bisa menutupi biaya operasional yang dikeluarkan setiap bulan,†katanya.
Grace mengaku, dengan kurangnya pendapatan itu membuat tertunggaknya pembayaran sejumlah kebutuhan, termasuk untuk kebutuhan obat.
Utang obat yang harus dibayarkan kepada penyalur obat lanjut Grace mencapai Rp3 miliar.
“Utang ini akan segera dibayarkan karena pihak Jamkesda akan segera membayar Rp1,3 miliar dan minggu ini dibayarkan lagi Rp600 juta. Tapi uang Rp1,9 miliar itu belum cukup karena masih tersisa Rp1,1 miliar yang harus dibayarkan. Kami upayakan hal ini bisa perlahan-lahan bisa dilunasi,†ujarnya.
Ke depannya lanjut Grace, manajemen berencana menyiapkan satu ruangan khusus untuk melakukan verifikasi klaim dari RSUD.
"Ruangan ini nanti akan menjadi tempat untuk verifikasi yang dilakukan pihak RSUD serta Jamkesda," ujar Grace. (*)
Pewarta: Bagus PurwaEditor : Arief Mujayatno
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.