"Kaltim Summit 2013 ini merupakan kegiatan kedua dalam kepemimpinan Gubernur Kaltim Awang Faaroek Ishak dan Farid Wadjdy, rencananya Kaltim Summit 2013 digelar di Balikpapan pada 30 Juli," ucap Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kaltim Rusmadi di Samarinda, Senin.
Kaltim Summit II 2013 mengangkat tema Transformasi Ekonomi Pasca Migas dan Batu Bara, guna merumuskan kebijakan RPJMD 2014 - 2018, sekaligus untuk mewujudkan visi Kaltim 2030, yakni Pertumbuhan Kaltim Hijau yang Berkeadilan dan Berkelanjutan.
Menurutnya, penetapan tema ini merupakan buah pemikiran gubernur yang kurang nyaman terhadap kondisi perekonomian Kaltim karena didominasi sektor migas dan batubara, padahal keduanya merupakan sumber daya alam yang tidak dapat diperbarui.
Selama ini, katanya, Provinsi Kaltim melalui sejumlah fase perkembangan ekonomi dengan baik, mulai dari penurunan pertumbuhan ekonomi dari 7,42 persen pada periode perkayuan (1970-1990) menjadi 5,71 persen pada era migas (1990-2000) yang mengakibatkan tingkat pengangguran hingga di atas 10 persen.
Fase lainnya adalah penurunan laju pertumbuhan ekonomi akibat pergeseran basis ekonomi migas ke batubara mulai 2002 sampai sekarang, sehingga berakibat pada pengangguran tertinggi dalam sejarah ekonomi Kaltim, yakni 12,83 persen pada 2007.
Fakta ini menunjukkan adanya fenomena berubahnya tingkat pertumbuhan ekonomi wilayah, yakni sebagai dampak berkurangnya stok sumberdaya tidak terbarukan telah terjadi di Kaltim.
Menurut Rusmadi, sesuai dengan visi Kaltim 2013 dengan tujuan utama mewujudkan Kaltim sebagai pusat agroindustri dan energi terkemuka, berarti perlu pengembangan sektor ekonomi unggulan berbasis SDA terbarukan dan tetap mengelola SDA tak terbarukan dengan fokus produk hilirnya.
Sedangkan visi Kaltim 2030, merupakan pemikiran kebijakan transformasi ekonomi pasca migas dan batubara, sehingga ke depan migas dan batubara tetap menjadi penyangga utama ekonomi Kaltim.
Pemprov Kaltim juga berusaha mengembangkan SDA terbarukan seperti sektor pertanian dalam arti luas, kepariwisataan, hingga industri manufaktur yang diharapkan membuka lapangan kerja baru. (*)
Pewarta: M GhofarEditor : Arief Mujayatno
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.