Kepala Dinas Peternakan Provinsi Kalimantan Timur Dadang Sudarya di Samarinda, Kamis, merinci dana sebesar itu berasal dari APBN melalui Dirjen Peternakan Kementerian Pertanian Rp3,8 miliar dan APBD Kaltim Rp4,4 miliar.
Dana dari APBN, antara lain digunakan untuk program pengembangan integrasi ternak ruminansia yang dikonsentrasikan hanya pada satu kelompok tani, katanya.
Dalam program ini, kata dia, dilakukan pengadaan sebanyak 31 ekor sapi yang menggunakan anggaran mencapai Rp300 juta atau masing-masing sapi dibutuhkan anggaran Rp9,6 juta baik untuk pengadaan sapi hingga pada proses distribusinya.
Ada pula dana berupa bantuan sosial dari APBN senilai Rp720 juta untuk insentif peternak yang mempertahankan sapi produktif.
Bansos dari APBN langsung ditransfer ke rekening kelompok ternak masing-masing, sedangkan dari Dinas Peternakan Kaltim hanya sebagai fasilitator.
Sebagian besar dari dana tersebut atau sebanyak Rp750 juta diberikan kepada peternak yang tidak menjual atau memotong sapi/kerbau bunting agar populasinya terus meningkat dari anak-anak ternak yang dilahirkan.
Selanjutnya adalah untuk pengembangan budidaya kerbau yang juga dikonsentrasikan hanya pada satu kelompok, dengan jumlah kerbau yang segera didistribusikan sebanyak 29 ekor.
Anggaran yang disiapkan Dirjen Peternakan untuk pengadaan sekaligus distribusi kerbau-kerbau itu hingga ke tangan kelompok ternak mencapai Rp300 juta, atau rata-rata tiap ekor kerbau dibutuhkan biaya Rp10,3 juta.
Sedangkan dana dari APBD Kaltim yang senilai Rp4,4 miliar, antara lain digunakan untuk pemberdayaan ternak sapi "brahman cross" (BC) pejantan, bagi tiga kelompok ternak dengan total sapi yang dibeli tujuh ekor.
Kemudian untuk pemberdayaan ternak sapi BC sedang bunting atau betina produktif. Program yang menggunakan dana sebesar Rp1,050 miliar ini untuk pengadaan 60 sapi BC bunting bagi dua kelompok ternak. (*)
Pewarta: M GhofarEditor : Arief Mujayatno
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.