Tarakan (ANTARA Kaltim) - Maraknya daging asal Malaysia masuk di pasaran Kota Tarakan, Kalimantan Timur kini mendesak produk lokal sehingga harganya turun drastis hingga 50 persen.

Salah seorang pedagang daging lokal Kota Tarakan Muh Rajib di Tarakan, Kamis, mengakui bahwa setiap pekan ratusan kilogram daging asal Malaysia masuk dan diperjualbelikan di pasar-pasar di Kota Tarakan.

Daging dari negara tetangga masih menjadi kebutuhan warga Kota Tarakan khususnya pelaku usaha kecil seperti warung makan dan penjual bakso karena harganya jauh lebih murah dibandingkan dengan daging lokal.

Menurut Rajib, daging asal Malaysia yang biasanya berasal dari India, Selandia Baru dan Australia itu harga jual di pasar-pasar Kota Tarakan berkisar Rp50.000 per kilogram. Sementara daging lokal segar saat ini harganya sudah mencapai Rp90.000 per kilogramnya.

Jadi, lanjut dia, murahnya harga daging asal Malaysia menyebabkan digemari oleh kalangan masyarakat ekonomi menengah ke bawah sebab apabila mengandalkan daging lokal maka kemungkinan tidak bisa mendapatkan keuntungan.

"Daging dari Malaysia masih dibutuhkan banyak masyarakat khususnya kalangan ekonomi menengah ke bawah. Jadi untuk menyetopnya sangat sulit karena sudah menjadi kebutuhan khususnya pengusaha warung makan dan penjual bakso," ujarnya.

Saat ini, kata dia, pasokan daging dari negara tetangga Malaysia ke Kota Tarakan diangkut langsung dari Tawau Malaysia dengan menggunakan speed boat jumlahnya hingga ratusan kotak dengan isi setiap kotak sebanyak 20 kilogram.

"Jadi, jika dihitung daging dari Malaysia yang masuk ke Tarakan minimal dua ton setiap hari. Makanya daging lokal ini jatuh karena masalah harga yang beda hampir 50 persen," kata Rajib.

Ia menambahkan, sebelum daging dari Malaysia banyak diperjualbelikan di Kota Tarakan jumlah hewan yang dipotong untuk daging lokal mencapai 10-12 ekor setiap hari. Tetapi saat ini paling banyak enam ekor saja yang dipotong setiap hari yang berarti ada penurunan drastis sekitar 50 persen, katanya. (*)


Pewarta: M Rusman
: Arief Mujayatno

COPYRIGHT © ANTARA 2026