Tenggarong (ANTARA Kaltim) - Memotret dengan kamera digital pada zaman sekarang, itu sudah biasa. Namun, bagaimana jika saat ini mengabadikan suatu keadaan, dengan kamera zaman dulu yang jauh dari kesan modern apalagi digital? pastinya tidak biasa.

Terlebih kameranya buatan tangan dengan bahan barang-barang bekas, dan langsung dipraktikkan untuk memotret.

Kamera lubang jarum namanya. Alat pengabadi keadaan yang dibuat dari barang-barng bekas ini dinamakan kamera lubang jarum karena lubang lensa yang dipakai untuk menangkap cahaya dibuat dengan ujung tajam jarum pentul, sehingga ukuran lubangnya ya tak lebih dari lubang jarum yang kecil tersebut.

Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar), dalam rangka Festival Kota Raja (FKR) untuk mempeingati hari jadi kota Tenggarong, menggelar ARTernative Foto Fest yang ke 2 di Indonesia 18-28 Oktober di Planetrium Jagad Raya, tenggarong. Sebelumnya, ARTernative Foto Fest yang pertama digelar di Jakarta.

Rangkaian kegiatan ARTernative Foto Fest itu antara lain memperkenalkan dan menumbuhkembangkan seni fotografi  melalui workshop kamera Pin Hole (lubang jarum) oleh Ray Bachtiar, yang merupakan pendiri Komunitas Lubang Jarum Indonesia (KLJI).  

Ray mengatakan dengan aplikasi kamera lubang jarum dapat diketahui tentang penggunaan cahaya,  sesuai dengan arti fotografi yaitu melukis dengan cahaya.

"Kalau dengan kamera biasa (selain lubang jarum.red), biasanya kita cuman ambil gambar jepret jepret selesai, tapi dengan kamera lubang jarum kita bisa mengetahui prinsip dasar fotografi dan bagaimana membuat alatnya," papar Ray kepada peserta workshop yang terdiri dari pelajar SMA, komunitas fotografi dan wartawan dari Tenggarong dan sekitarnya.

Sementara Kepala Disbudpar Kukar Sri Wahyuni saat membuka kegiatan itu, Kamis (18/10) mengatakan Ia tak ingin generasi muda serba instant, termasuk dalam hal fotografi, tetapi bagaimana prisnip dasar dan membuat kamera itu juga perlu diketahui.

"Ini untuk mengembangkan ide kreatif sekaligus edukasi pelajaran Fisika maupun Kimia, karena dua pelajaran tersebut ada pada membuat dan memakai kamera lubang jarum," ujarnya.

Menurutnya budaya dan potensi serta keunikan daerah bisa kita abadikan dengan kamera lubang jarum.

"Tak harus dengan alat mahal, dengan alat sederhana diharpkan menjadi spirit munculnya ide kreatif. Semoga setelah workshop ini bisa muncul KLJI di Kukar," harapnya.
Untuk diketahui hingga 28 Oktober dilaksanakan pameran foto ARTernative. Foto yang dipajang adalah karya seniman dan komunitas fotografer Alternatif karya KLJI. (hmp03)

Membuat Kamera Lubang Jarum

Tak perlu merogoh kocek yang dalam untuk membuat sebuah kamera lubang jarum sederhana, cukup dengan bahan bahan yang mudah didapat bahkan barang bekas pun bisa dimanfaatkan.

Membuatnya pun relatif mudah, seperti dikatakan Nugraha siswa kelas 6 Sekolah Dasar Alam Anak Soleh, Bekasi yang mempraktekkan cara membuat kamera lubang jarum dihadapan peserta workshop KLJI, di Planetaium Jagad Raya, Tenggarong.

Dijelaskannya, bahan yang diperlukan adalah bekas kaleng rokok atau pipa paralon dengan panjang kurang lebih 10 cm yang bagian dalamnya telah disemprot cat hitam dan dilubangi. Setelah itu untuk membuat lensa, potong lembaran aluminium dengan ukuaran 2x2 cm yang bisa diambil dari kaleng minuman bersoda atau sebagainya.

Potongan tersebut kemudian dilubangi dengan jarum pentul, lalu direkatkan pada lubang di kaleng atau paralon dengan lakban. Lalu tutup rapat paralon, terakhir buat penutup lubang lensa dari lakban sebagai shutter.

"Ingat kaleng harus kedap cahaya, kecuali lubang lensa, ini untuk menghindari kegagalan akibat cahaya yang tidak diinginkan masuk," ujar bocah berusia 13 tahun itu saat memandu praktek membuat kamera lubang jarum yang dikerjakan seluruh seluruh peserta workshop.

Untuk menggunakannya, isi kaleng dengan kertas foto peka cahaya ditempat yang gelap, agar ketas tak rusak sebelum digunakan. Kemudian tutup rapat kamera, termasuk lensa. Lalu ambil gambar yang di inginkan dengan menaruh kamera dihadapan objek yang di inginkan.

"Buka shutter (penutup lensa.red) waktunya hitungan detik, lama pengambilan gambar tergantung kondisi cahaya, lalu untuk menyudahi pengambilan gambar tutup kembali lubang lensa," terangnya.

Untuk mengetahui hasilnya kelurkan kertas foto  ditempat kedap cahaya lalu cuci dengan cairan khusus lalu keringkan.

"Jika berhasil, gambar yang dihasilkan merupakan negatif foto," paparnya.

Usai membuat kamera, para peserta lalu mempraktikkan menggambil gambar dengan kamera yang mereka buat masing-masing. Hasilnya pun bermacam-macam, ada yang berhasil tak sedikit pula yang gagal. Namun para peserta tampak tetap tersenyum cerah, dan ketagihan kembali mencoba untuk berhasil mendapatkan gambar.

Agri Winata salah satu peserta mengatakan, membuat kamera lubang jarum tidak sulit, tetapi saat pengambilan gambar yang rumit,karena menyesuaikan lamanya membuka lensa terhadap cahaya.

Irfan Aditama juga mengatakan hal serupa, menurutnya perlu kesabaran dan perlu banyak mencoba untuk mendapat hasil yang baik.

"Seru, dengan kamera lubang jarum ini, bagaimana kita memotret dengan merasakan perjuangan dan proses yang tidak instan," ujar fotografer Kaltimpost itu usai mencoba kamera yang dibuatnya.

Sesuai yang dikatakan pendiri KLJI Ray Bachtiar bahwa yang terlihat mudah belum tentu gampang untuk dilakukan untuk mendapat hasil gambar yang bagus.

"Jadi perlu banyak mencoba, kembangkan imajinasi anda untuk mendapat hasil yang menarik," ungkap Ray. (*)


Pewarta: Hayru Abdi
Editor : Arief Mujayatno

COPYRIGHT © ANTARA 2026