Balikpapan (ANTARA News Kaltim) - Pendaki gunung dan pemanjat tebing asal Kanada, Jocelyn Dufour, akan mendaki puncak salah satu dari tujuh puncak tertinggi dunia, Gunung Carstensz Pyramid setinggi 4.884 meter atau yang lebih dikenal dengan Puncak Jaya di Pegunungan Jayawijaya, Papua.

"Saya akan berangkat pekan depan, Minggu (25/3). Dari Balikpapan ke Makassar, lalu ke Jayapura dan terus ke Timika," tutur Dufour di Balikpapan, Minggu (18/3).

Dufour, 40 tahun, sedang melakukan latihan panjat tebing di dinding panjat milik Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) Balikpapan di halaman Gedung Pertemuan dan Olahraga Balikpapan (Dome).

Ia adalah instruktur untuk klub panjat tebing Total Indonesie, di mana ia juga bekerja sebagai geologis bagi perusahaan migas tersebut.

Target utama Dufour adalah puncak Carstenz Pyramid yang merupakan pegunungan bersalju.

Setelah itu, bila masih ada waktu dan cuaca memungkinkan, ia juga akan mendaki puncak-puncak lain di Pegunungan Tengah tersebut yang memang berdekatan yaitu Puncak Idenburg (4.730 mdpl), Puncak Merah Putih (4.284 mdpl), Puncak Garuda (4.613 mdpl), Puncak Jaya atau Soekarno (4.862 mdpl), Puncak Sunday Peak, dan Puncak Carstensz Timur.

Menurut Dufour, ekspedisi yang akan dilakukannya itu tergolong ekspedisi kecil. Awalnya ia berencana berangkat sendirian, namun kemudian untuk menghemat biaya ia setuju untuk bergabung dengan dua pendaki lain.

"Ada satu dari Amerika yang saya lupa namanya," katanya tertawa.

Dari Timika, tutur Dufour, ia melanjutkan ke Tembagapura, kota yang dibangun Freeport McMoran --perusahaan tambang emas dan tembaga terbesar di dunia--.

Di Tembagapura (1.820 meter dari permukaan laut, mdpl) inilah ia akan bertemu dengan dua teman setimnya. Di sini juga mereka akan bertemu dengan para porter, pembawa barang, yang akan membantu mereka membawa perlengkapan hingga ke Lembah Danau-danau (4.200 mdpl), titik awal menuju puncak.

"Rencananya kami akan mendaki dalam tiga minggu," kata Dufour.

Ia berharap pendakian akan berlangsung lancar sejak awal, tidak ada masalah dengan cuaca ataupun dengan para porter pembawa barang.

Kawasan pegunungan bersalju di Papua pertama kali dilihat dunia luar tahun 1623. Pelaut Belanda Jan Carstensz yang mengarahkan kapalnya di pesisir selatan Papua terpesona melihat puncak-puncak putih berselimut salju di kejauhan di utara. Meski begitu, cerita Carstensz tentang gunung bersalju dekat khatulistiwa jadi bahan tertawaan di Eropa.

Bersama keluarganya, Jocelyn Dufour sudah tiga tahun lebih tinggal di Balikpapan, Kalimantan Timur. Selain panjat tebing, ia juga pelari handal. Ia berlari 8-15 km setiap Senin sore bersama klub lari lintas alam Balikpapan Hash House Harriers (BHHH).

"Saya harus manfaatkan waktu sebaik-baiknya, karena ekspatriat hanya diizinkan bekerja empat tahun di Indonesia," katanya.

BHHH memang menjadi wadah bagi banyak ekspatriat di Balikpapan untuk menyalurkan hobi berkegiatan di alam bebas selain untuk menjaga kebugaran fisik dan bersosialisasi. Beberapa anggotanya adalah pendaki gunung, meski bukan profesional, tapi serius dalam kegiatan tersebut.

Begitu ada waktu luang, mereka pergi menjelajah alam dan terutama naik gunung di mana saja di Indonesia, baik gunung yang sudah mudah didaki karena ada industri pariwisata, atau pun gunung yang masih menjanjikan petualangan semisal Gunung Rinjani di Lombok dan Gunung Semeru di Jawa Timur.

"Tahun lalu, seorang anggota kami, Malagarai, berhasil mencapai puncak Everest, gunung tertinggi di dunia," cerita Johny Soselisa, Grand Master (GM, ketua umum) BHHH. Malagarai adalah nama julukan untuk Martin Howard Smith, geologis yang bekerja untuk Chevron Indonesia Company.

Soselisa memperlihatkan sebuah foto yang menggambarkan Malagarai di puncak Everest, susah payah memegang bendera yang berkibar-kibar ditiup angin kencang.

"Itu bendera BHHH," tunjuk Soselisa bangga.  (*)



Pewarta: Novi Abdi
Editor : Arief Mujayatno

COPYRIGHT © ANTARA 2026