"Kalimantan Barat, Tengah, dan Timur ini lumbung nasionalis, maka kita `head to head` dengan PDIP dan Partai Demokrat untuk memperebutkan suara pemilih di ketiga provinsi ini," kata Wakil Ketua Umum Partai Golkar Fadel Muhammad di depan hadirin Rapat Koordinasi Teknis (Rakornis) Pemenangan Pemilu Wilayah Kalimantan di Balikpapan akhir pekan lalu.
Di Kalimantan Selatan yang terkenal memiliki tradisi Islam yang kuat, Golkar melihat partai-partai berbasis Islam seperti Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) sebagai lawan berat.
"Jadi saudara-saudara tahu betapa beratnya perjuangan kita," sambung Fadel yang juga Koordinator Pemenangan Pemilu Indonesia Timur.
Dengan alasan itu pula Golkar menggelar rakornis tersebut. Golkar juga memetakan kebutuhan dan kecenderungan tiap daerah nasionalis di Kalimantan tersebut.
Kalimantan Barat, misalnya, disebutkan sangat sensitif dengan isu suku, agama, ras, dan antargolongan. Demikian pula dengan Kalimantan Tengah.
"Perjuangan di Kalimantan Tengah bertambah berat karena gubernur Kalteng sekarang dari PDIP," kata Fadel dari mimbar Rakornis di Grand Ballroom Hotel Grand Senyiur, Jalan ARS Muhammad.
Golkar mencanangkan merebut 40 persen suara pada Pemilu 2014.
Seperti dipaparkan Ahmadi Noor Supit, Ketua Tim Pemenangan Pemilu Wilayah Kalimantan, cara utamanya adalah dengan konsolidasi organisasi, yaitu dengan melantik hingga 2 juta pengurus baru di seluruh Indonesia, dan kemudian merekrut hingga 10 juta kader baru.
Kader-kader baru itu, katanya, kemudian diharapkan bisa menggaet minimal dua simpatisan per orang.
Selain strategi politik, dijalankan juga strategi ekonomi dan strategi kultural. Pada strategi ekonomi, kader-kader Golkar yang pengusaha diminta berperan aktif di organisasi-organisasi pengusaha seperti Kamar Dagang dan Industri (Kadin), Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI), dan lain-lain.
Dalam strategi kultural, kata Ahmadi Noor Supit, setiap pengurus diminta memahami budaya lokal di mana ia menjadi pengurus untuk memajukan kepentingan partai. (*)
Pewarta: Novi Abdi: Arief Mujayatno
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.