APBD sebesar itu, berarti lebih besar ketimbang belasan provinsi di Indonesia. Kekayaan Kutai Timur selain karena potensi sektor Migas dan perkbunan, juga karena hasil dari batu bara yang tercatat sebagai daerah penghasil "emas hitam" terbesar nasional atau terbesar di dunia untuk katagori tambang terbuka (open pit mine).
Di Kutai Timur terdapat sejumlah perusahaan batu bara, sudah tentu yang terbesar dari PT. Kaltim Prima Coal (KPC) yang disebut-sebut berambisi bisa memenuhi target produksi 2010 mencapai 80 juta metrik ton.
Namun, bayangan bahwa penduduknya rata-rata sejahtera segera akan pupus ketika melintasi desa-desa pinggiran kota, apalagi ke kawasan pedalaman.
Indikator utama kesejahteraan warga adalah pada bidang pelayanan publik yang terkait dengan sektor pendidikan, kesehatan, listrik, komunikasi dan air bersih.
Berbagai bentuk pelayanan umum itu menjadi "barang mewah" bagi sebagian warga Kutim, termasuk desa-desa pinggiran yang hanya berjarak beberapa kilometer dari pusat kota.
Lihat saja, sebagian besar Warga pingggiran Kota Sangata, Kabupaten Kutai Timur, Kaltim sampai kinibelum menikmati aliran listrik, jadi mereka hanya menggunakan lampu minyak atau lampu teplok dan genset pribadi.
Ironisme Kutai Timur sebagai penghasil bahan baku energi terbesar nasionaol dengan keberadaan lampu templok menjadi "fenomena" yang menarik. Ketika daerah lain di Kaltim sudah jarang orang menggunakan lampu teplok ini, justru di daerah penghasil batu bara terbesar nasional, keberadaan lampu berbahan minyak tanah ini cukup banyak dimiliki warga.
Dari sekian desa yang belum menikmati listrik itu, bisa terlihat pada kehidupan warga yang tinggal di dua dusun dalam wilayah Kota Sangata, yakni Dusun Kenyamukan Desa Sangata Utara dan Dusun VII Bukit Pelangi, Desa Teluk Lingga.
Dua dusun yang dihuni ratusan KK itu berada hanya beberapa kilometer dari pusat kota Kutai Timur, Sangata.
Mayoritas penduduk Dusun Kenyamukan adalah nelayan, dan petani. Sedangkan Dusun VII Bukit Pelangi, juga banyak nelayan, petani dan ada juga Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan karyawan perusahaan.
Bahkan, ironisnya ternyata di Dusun VII ini tercatat sejumlah pejabat Pemkab Kutai Timur Swasta, dan bahkan sejumlah pejabat terdaftar sebagai penduduk RT 40, antara lain rumah jabatan bupati, rumah jabatan wakil bupati dan rumah jabatan Sekda dan para asisten.
Kalau rumah pejabat listriknya tidak menjadi masalah, siang malam tetap menyalah karena satu aliran dengan kawasan perkantoran yang disuplai dari Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD)
Sedangkan warga di bukit pelangi dusun VII yang hanya berbatasan puluhnan meter saja tetap saja hanya menggunakan mesin genset., bahkan ada yang masih menggunakan lampu teplok.
Menurut Kasman, Kepala Dusun VII Bukit Pelangi, berdasarkan data Sensus penduduka Tahun 2010 lalu, Dusun VII Bukit Pelangi dengan tiga RT, yakni RT 38 penduduknya 20 Kepala Keluarga atau sekitar 70 jiwa. Sedangkan RT 39 dengan 170 Kepala Keluarga atau 320 lebih jiwa. Serta RT 40 berjumlah 360 Kepala Keluarga atau 600 jiwa lebih
Tiga RT tersebut, berada di sepanjang jalan pendidikan yanfg merupakan jalan utama menuju pusat perkantoran bukit pelangi. Pemukiman warga Bukit pelanfgi berbatasan langsung dengan pusat pemerintahan Kutai Timur, tetapi listiknya belum ada."Jadi jumlah warga Dusun VII sekitar dengan penduduk 600 Kepala keluarga (KK) lebih atau seribu lebih jiwa pendudiknya,"kata Kasman.
Bantuan Genset
Kasman mengatakan bahwa belum masuknya aliran listrik PLN ke Bukit Pelangi, menjadi keluhan warga, sebab, selama bertahun-tahun, hanya menggunakan mesin genset.
"Meskipun ada bantuan mesin genset dari pemkab tetapi hanya digunakan pada malam hari," ujar dia.
"Sudah pernah mengusulkan kepada pemkab agar warha yang tinggal di bukit pelangi diberikan listrik, dengan catatan setiap bulan warga bayar iuran, namun tidak disetujui," imbuhnya.
Sedangkan dusun kenyamukan yang berada tepatnya di pesisir , atau sekitar 8 kilometer dari pusat kota Sangata berjumlah sekitar 30 kepala keluarga atau sekitar 80 jiwa.
"Warga berharap agar lsitrik segera masuk bukit pelangi, sehingga warga bisa menikmatinya dan bisa membuka usaha dan kegiatan," katanya berharap.
Berdasarkan data Pemkab Kutim menunjukan bahwa terdapat enam dari delapan desa di Kecamatan Rantau Pulung sampai kini belum menikmati aliran listrik.
Pada gilirannya, ribuan warga di enam desa di Kecamatan Rantau Pulung itu setiap malam tidur hanya disinari oleh lampu teplok atau disebut juga lampu tempel.
Ke-enam desa itu masing-masing Pulung Sari, Margo Mulyo, Manunggal Jaya, Tanjung Labu. Tepian Makmur, Desa Mukti Jaya SP3 dan desa Rantau Makmur SP4.
"Jumlah penduduk tinggal di enam desa yang belum tersentuh listrik itu sedikitnya sekitar 2.000 jiwa," kata Bejo (51) Warga Desa Kebon Agung/SP7.
Ternyata kondisi seperti itu berlangsung sejak 13 tahun silam atau pada 1997, yakni sejak kedatangan mereka yang mengikuti program transmigrasi dari Pulau Jawa ke daerah itu belum pernah tersentuh listrik.
Tidak adanya aliran listrik jelas sangat menghambat upaya mereka dalam meningkatkan taraf hidupnya, termasuk bagi pendidikan anak-anak mereka karena belajar dalam suasana gelap karena hanya menggunakan lampu tempel mempengaruhi minat mereka untuk membuka mengulang pelajarannya di rumah.
Di desa itu, terlihat beberapa warga eks-trans yang perekonomiannya cukup maju mampu mengatasi masalah tersebut dengan membeli genjet namun jumlahnya segelitir orang saja. Bahkan, kenaikan harga solar yang begitu tinggi menjadi kendala mereka untuk menghidupkan gensetnya
"Hanya beberapa persen kecil saja masyarakat eks transmigrasi di Rantau Pulung yang sudah menikmati aliran listrik,kalau yang tidak mampu ya gelap " kata Bejo yang juga adalah Ketua RT 09 desa Kebon Agung warga eks transmigrasi asal Jawa Timur
Mantan Kepala desa Kebon Agung, Subroto mengatakan heran karena Rantau Pulung yang sudah resmi menjadi Kecamatan selama lima tahun tetapi belum memiliki listrik
Kondisi itu, kata Subroto menjadi kendala warga untukmembuka usaha yang mestinya memerlukan pasokan listrik.
Yohanis 47 tahun, warga desa Tanjung Labu Rantau Pulung mengaku selama ini warga bisa menikmati listrik bukan dari pemerintah namun swadaya warga untuk mengadakan genset yang menggunakan BBM solar sejak ia datang pada 2000 di daerah itu.
Rantau Pulung adalah eks unit pemukiman transmigrasi (UPT) yang dimekarkan menjadi tahun 2005 menjadi Kecamatan bersama dengan pemekaran kecamatan lain di Kutai Timur masing-masing Kecamatan Batu Ampar dan Kecamatan Kaubun
Kecamatan Rantau Pulung memiliki luas wilayah 143.83 Km2 berpenduduk 7.366 jiwa hanya berjarak sekitar 38 kilometer dari Sangata, ibukota Kabupaten Kutai Timur.
Seiring dengan perkembangan daerahnya, perkonomian di daerah itu cukup berkembang dengan kehadiran sejumlah investor perusahaan perkebunan kelapa sawit, hingga saat ini masyarakat setempat mendominasi sebagai tenaga kerja perkebunan dan sebagian sebagai usaha dagang.
Seharusnya, dengan kekayaan itu (APBD hampir Rp4 triliun) maka pemerintah bisa mengentaskan berbagai persoalan untuk meningkatkan kesejahteraan warganya dengan lebih fokus membenahi berbagai prasana dan sarana yang terkait dengan kebutuhan mendasar warga, yakni air bersih, listrik, kesehatan dan pendidikan.
Terutama untuk segera mengakhiri sebuah ironisme, yakni salah satu daerah terkaya di Kaltim namun mmiliki penduduk termiskin hampir 50 poersen penduduknya mencapai 98.000 jiwa.
Editor : Iskandar Zulkarnaen
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.