Pembiayaan konsumer saat ini tidak hanya dimanfaatkan untuk kebutuhan konsumtif, tetapi juga mulai diarahkan untuk mendukung perencanaan keuangan jangka panjang
Samarinda (ANTARA) - Masyarakat kini semakin cerdas menjadikan program cicilan emas syariah sebagai instrumen investasi masa depan yang aman dan terencana di tengah dinamika ekonomi global.
"Pembiayaan konsumer saat ini tidak hanya dimanfaatkan untuk kebutuhan konsumtif, tetapi juga mulai diarahkan untuk mendukung perencanaan keuangan jangka panjang," kata Digital Business & Product Management Division Head Bank Mega Syariah, Benadicto Alvonzo Ferary saat dihubungi di Samarinda, Selasa.
Tren peningkatan literasi dan kesadaran investasi masyarakat tersebut tercermin dari meroketnya angka pembiayaan emas syariah melalui produk Flexi Gold Bank Mega Syariah yang mencatat pertumbuhan pesat hingga lebih dari 1.236 persen sepanjang tahun berjalan.
Menariknya, kata dia, tingginya animo publik dalam mengumpulkan aset logam mulia secara bertahap ini tetap diimbangi oleh tingkat kedisiplinan finansial yang sangat baik.
Hal tersebut dapat dibuktikan secara langsung dari kualitas portofolio penyaluran dana perbankan yang tetap terjaga ketat dengan rasio pembiayaan bermasalah bertahan stabil pada level nol persen.
Secara keseluruhan portofolio, besarnya minat publik terhadap pengelolaan dana jangka panjang membawa total pembiayaan konsumer pada bank syariah tersebut menembus angka Rp586 miliar hingga April 2026.
Wilayah ibu kota Jakarta beserta kawasan sekitarnya masih mendominasi peta literasi perencanaan keuangan berbasis syariah ini dengan nilai kontribusi penyaluran mencapai Rp202,7 miliar.
Menurut Benadicto, pergeseran pola pikir masyarakat yang tidak lagi sekadar berutang untuk berbelanja turut memberikan dampak positif terhadap pendapatan konsumer perbankan yang tumbuh stabil mencapai Rp5,4 miliar.
Momentum kebangkitan sektor ritel yang mengedepankan keamanan nilai aset ini juga menggenjot total penyaluran pembiayaan keseluruhan perusahaan menyentuh angka lebih dari Rp9,26 triliun.
Pertumbuhan pesat kesadaran masyarakat pada produk investasi bebas riba ini pada akhirnya ikut menggenjot kinerja laba sebelum pajak perusahaan yang melesat tajam sebesar 51 persen menjadi Rp79,97 miliar.
"Fenomena pergeseran tren ini memberikan edukasi berharga bahwa fasilitas pembiayaan perbankan sejatinya sangat efektif dimanfaatkan guna membangun ketahanan harta keluarga alih-alih hanya untuk memenuhi tuntutan gaya hidup konsumtif semata," jelas Benadicto.
Pewarta: Ahmad RifandiEditor : Rahmad
COPYRIGHT © ANTARA 2026