Langkah antisipasi tersebut mencakup vaksinasi, penguatan program pemberantasan sarang nyamuk, dan implementasi teknologi Wolbachia demi menekan demam berdarah dengue

Samarinda (ANTARA) - Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) menjalankan tiga langkah mengantisipasi kasus demam berdarah dengue (DBD) di seluruh wilayah kabupaten dan kota setempat.

"Langkah antisipasi tersebut mencakup vaksinasi, penguatan program pemberantasan sarang nyamuk, dan implementasi teknologi Wolbachia demi menekan demam berdarah dengue," kata Kasi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Dinkes Kaltim dokter Eryariyatin di Samarinda, Jumat.

Data Dinkes Kaltim menunjukkan sepanjang periode Januari hingga April tahun 2026 tercatat sebanyak 1.567 kasus DBD dengan angka kematian mencapai dua orang.

Eryariyatin menjelaskan masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan karena adanya pola kenaikan jumlah penderita penyakit akibat gigitan nyamuk Aedes aegypti tersebut setiap tahun.

"Nyamuk penyebab DBD memiliki karakteristik waktu aktif yang spesifik yakni biasanya terbang dan menggigit manusia pada waktu pagi serta sore hari saja," jelas dia.

Masyarakat diimbau pihaknya tidak perlu panik terhadap nyamuk malam hari karena jenis tersebut berbeda dengan Aedes aegypti yang cenderung tidak aktif saat hari gelap.

Lanjut Eryariyatin, salah satu upaya pencegahan utama adalah melalui pemberian vaksinasi DBD sebagai langkah proteksi tambahan yang kini tersedia di berbagai fasilitas kesehatan maupun rumah sakit.

Selain itu, gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) 3M Plus tetap menjadi upaya untuk memutus mata rantai perkembangbiakan jentik nyamuk di lingkungan warga.

"Inovasi teknologi Wolbachia juga dijalankan untuk melumpuhkan virus dengue dalam tubuh nyamuk sehingga potensi penularan ke tubuh manusia dapat dicegah secara efektif," papar Eryariyatin.

Dinkes Kaltim tetap waspada terhadap informasi bohong atau hoaks yang beredar di media sosial mengenai dampak negatif dari penerapan program teknologi Wolbachia tersebut.

Eryariyatin menekankan bahwa DBD merupakan penyakit yang sangat bisa dicegah melalui perubahan perilaku serta tumbuhnya kesadaran mandiri untuk menjaga kebersihan rumah masing-masing.

"Pencegahan harus dimulai dari lingkup terkecil yakni diri sendiri dan keluarga agar tidak ada tempat bagi nyamuk untuk berkembang biak di sekitar pemukiman," ucap Eryariyatin.

Dia menambahkan, kesadaran masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan adalah faktor penentu utama supaya kasus penyakit mematikan ini tidak semakin meluas bagi seluruh warga di masa depan.



Pewarta: Ahmad Rifandi
Editor : Rahmad

COPYRIGHT © ANTARA 2026