"Hasil kerajinan tangan yang dibuat dari anyaman rotan yang dipadu dengan manik-manik, sangat diminati orang Eropa, ujar perajin Theodora Hangin Bang Donggo, Senin.
Peraih penghargaan Upakarti dari Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono pada 28 Desember 2009 lalu itu mengaku, beberapa negara yang menjadi tujuan pemasaran kerajinan tangan produksi CV. Matan (Manik-manik-Rotan) yang dipimpinnya itu, di antaranya Jerman dan Australia.
"Bahkan, banyak ekspatriat dari Jerman dan Australia menjadikan produk kami sebagai cenderamata ketika pulang ke negaranya. Biasanya, kerajinan tangan rotan dan manik-manikk itu dijadikan sebagai pembungkus toples mereka," kata Theodora Hangin Bang Donggo.
Kerajinan rotan dan manik-manik yang paling diminati di pasar Eropa dan ekspatriat, kata Theodora Hangin Bang Donggo, yakni 'katat' (tempat menyimpan barang berharga) dan 'pasuk' (keranjang).
"Setiap mengikuti pameran di negara Eropa, pasuk dan katat yang paling banyak diminati," katanya.
Usaha kerajinan tangan yang dirintisnya sejak 1990-an itu telah berhasil membina puluhan perajin di Kabupaten Kutai Barat dan Kota Samarinda.
Berkat inovasi dan kreativitasnya memadukan rotan dan manik-manik menjadi 'katat' Theodora Hangin Bang Donggo, meraih penghargaan 'Seal of Exellence' dari UNESCO pada 2007.
Bahkan, hasil karyanya juga mendapat penghargaan dari Aburizal Bakrie pada Pekan Produk Budaya Indonesia sebagai anyaman rotan terbaik di Indonesia.
"Hasil rajutan 'katat' dianggap sebagai hasil karya tradisional yang unik, inovatif serta menggunakan bahan baku dari alam sehingga mendapat penghargaan dari UNESCO," ujarnya.
Hingga saat ini, usaha kerajinan rotan dan manik-manik yang dikelola Theodora Hangin Bang Donggo telah membina 15 kelompok perajin rotan di Kutai Barat dan lima kelompok perajin manik-manik di Kota Samarinda.
"Kami memadukan perajin rotan yang ada di Kutai Barat dengan perajin manik-manik di Samarinda. Jadi, anyaman rotan dari pedalaman Kaltim itu dipadu dengan manik-anik buatan perajin di Samarinda," katanya.
"Itulah yang membedakan kerajinan tangan buatan kami dengan kerajinan tangan lainnya. Kami mencoba memanfaatkan sumber daya alam yang melimpah di pedalaman Kaltim dengan keahlian masyarakatnya yang umumnya pandai menganyam dan kerajianan khas manik-manik khas Samarinda, " katanya.
Editor : Iskandar Zulkarnaen
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.