Samarinda (ANTARA) - Balai Wilayah Sungai (BWS) Kalimantan IV Samarinda mengoptimalkan enam bendungan utama dan 44 titik sumur dalam sebagai upaya mengantisipasi ancaman kekeringan akibat musim kemarau di Provinsi Kalimantan Timur.

"Kami terus memastikan operasional seluruh infrastruktur sumber daya air secara maksimal agar kebutuhan masyarakat dan sektor pertanian tetap terpenuhi," kata Kepala Seksi Operasi dan Pemeliharaan BWS Kalimantan IV Samarinda Riz Anugerah di Samarinda, Jumat.

Ke-enam infrastruktur penampung air berkapasitas besar yang disiapkan meliputi Bendungan Samboja dan Bendungan Marangkayu di Kabupaten Kutai Kartanegara, serta Bendungan Sepaku Semoi di Kabupaten Penajam Paser Utara.

Fasilitas lainnya berlokasi di kawasan pesisir, yakni Bendungan Manggar dan Bendungan Teritip di Kota Balikpapan, ditambah Bendungan Lempake yang berada di Kota Samarinda.

"Keberadaan deretan bendungan tersebut memberikan manfaat ganda bagi kelangsungan hidup masyarakat berupa penyediaan air baku, kelancaran sarana irigasi, sekaligus menjadi infrastruktur pengendali banjir kawasan," papar Riz.

Melengkapi fungsi waduk, pemerintah telah memetakan operasional puluhan sumur bor dalam yang tersebar merata di berbagai wilayah untuk memperkuat ketahanan air.

Baca juga: Berau lindungi pertanian dari dampak kemarau

Sebaran titik sumber air tanah tersebut mencakup satu lokasi di Kabupaten Kutai Timur, sembilan titik di Kota Bontang, 10 titik di Kutai Kartanegara, dan delapan titik di Balikpapan.

Distribusi fasilitas serupa juga menjangkau wilayah selatan daerah ini guna pemerataan, dengan rincian empat titik sumur di Penajam Paser Utara serta 12 titik di Kabupaten Paser.

Pemanfaatan sumur air tanah ini difokuskan secara spesifik untuk menyuplai ketersediaan air baku konsumsi warga harian dan menjaga keandalan sistem pengairan irigasi pertanian daerah.

Selain memastikan kesiapan fisik bangunan, langkah mitigasi non-struktural juga diintensifkan oleh pemerintah lewat penertiban pola tanam yang dikoordinasikan secara langsung melalui peran Komisi Irigasi.

Instansi pemerintah terkait memberdayakan potensi cadangan air non-waduk dengan memaksimalkan pemanfaatan fasilitas penampungan seperti embung, situ, hingga danau yang berada di sekitar permukiman.

Sistem kewaspadaan dini daerah semakin diperkuat dengan pemanfaatan sistem teknologi informasi guna memantau perkembangan prediksi cuaca ekstrem dan mengukur tingkat ketersediaan debit air harian.

"Kolaborasi dan sinergi antarinstansi terus ditingkatkan demi memastikan setiap tindak lanjut penanganan risiko kekeringan dapat dieksekusi secara cepat, efektif, dan tepat mengenai sasaran," ujar Riz.

Baca juga: BWS antisipasi sumber daya air hadapi kekeringan Kaltim



Pewarta: Ahmad Rifandi
Editor : Imam Santoso

COPYRIGHT © ANTARA 2026