Samarinda (ANTARA) - Pekebun rakyat menjadi petani yang paling makmur di Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) pada Maret 2026 dibuktikan dengan nilai tukar yang tertinggi ketimbang petani lainnya baik petani tanaman pangan, nelayan dan pembudidaya ikan, hortikultura, maupun peternak.

"Secara umum, Nilai Tukar Petani (NTP) Kaltim pada Maret 2026 sebesar 148, menggambarkan bahwa secara umum petani makmur. Namun tentu ada NTP yang paling tinggi, yakni perkebunan rakyat," kata Ketua Tim Statistik Distribusi BPS Provinsi Kaltim Ariyanti Cahyaningsih di Samarinda, Selasa.

NTP sebesar ini mengalami penurunan 0,72 persen ketimbang bulan sebelumnya yang tercatat 149,08. Penurunan NTP disebabkan Indeks Harga yang Diterima Petani (It) hanya naik 0,01 persen, sementara Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) naik sebesar 0,74 persen.

Rincian NTP per masing-masing subsektor adalah Nilai Tukar Petani Tanaman Pangan (NTPP) merupakan petani dengan penghasilan paling kecil ketimbang petani lainnya dengan NTP 101,66. Namun petani tanaman pangan masih untung karena NTP di atas 100.

Angka keseimbangan NTP adalah 100, jika di bawah 100 berarti petani rugi, pas 100 berarti pas kembali modal, di atas 100 berarti petani untung, namun jika jauh di atas 100 berarti petaninya makmur.

Ia melanjutkan, untuk Nilai Tukar Nelayan dan Pembudidaya Ikan (NTNP) berada di peringkat dua dengan nilai 106,17, disusul Nilai Tukar Petani Peternakan (NTPT) sebesar 111,43, kemudian Nilai Tukar Petani Hortikultura (NTPH) sebesar 119,14.

Sedangkan untuk Nilai Tukar Petani Tanaman Perkebunan Rakyat (NTPR), merupakan jenis pertanian yang paling banyak mendapat keuntungan sehingga petaninya makmur, yakni dengan nilai tukar mencapai 206,61, jauh di atas angka keseimbangan.

"Pada Maret 2026, dari lima subsektor pertanian di Kaltim, terdapat dua subsektor yang mengalami penurunan NTP yaitu tanaman pangan turun 0,98 persen dan subsektor tanaman perkebunan rakyat turun 1,85 persen," katanya.

Sebaliknya, terdapat tiga subsektor pertanian yang mengalami kenaikan nilai tukar, yaitu subsektor hortikultura naik 2,81 persen, subsektor peternakan naik 1,64 persen, dan subsektor perikanan naik 0,57 persen.

"Sejalan dengan penurunan NTP, maka untuk Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP) pada Maret juga turun, yakni minus 0,38 persen, dari 155,68 pada Februari menjadi 155,08 pada Maret," kata Ariyanti.

Baca juga: Disbun Kaltim remajakan 300 hektare karet rakyat di Kutai Barat



Pewarta: M.Ghofar
Editor : Imam Santoso

COPYRIGHT © ANTARA 2026