Samarinda (ANTARA) - Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Timur mengajak seluruh masyarakat lebih proaktif menyukseskan program imunisasi campak karena cakupan vaksinasi tersebut di wilayah setempat belum optimal untuk mencapai ambang batas kekebalan kelompok.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Kaltim Fit Nawati di Samarinda, Senin, mengungkapkan saat ini capaian imunisasi campak di daerah dengan sebutan "Bumi Etalase Ibu Kota Nusantara" ini menyentuh angka 65 persen.
Angka ini, katanya, masih terpaut jauh dari target nasional yang menetapkan minimal 95 persen cakupan merata di seluruh wilayah.
“Cakupan kita masih cukup jauh. Artinya, ada sekitar 30 persen anak di Kaltim yang belum terjangkau imunisasi dan berisiko tinggi terpapar virus,” ujarnya dalam sosialisasi "Waspada Campak pada Anak" di Samarinda.
Ia menjelaskan campak bukan sekadar demam biasa. Virus ini menular dan dapat memicu komplikasi serius pada anak-anak.
Gejala klinis yang perlu diwaspadai orang tua, antara lain, demam tinggi, batuk dan pilek, mata merah (konjungtivitis), dan munculnya ruam atau bercak merah pada kulit.
Baca juga: Kemenkes genjot imunisasi campak dan rubella mulai Maret 2026
“Kelompok paling rentan adalah bayi dan balita yang belum imunisasi. Namun, orang dewasa dengan kondisi gizi buruk juga bisa menjadi perantara penularan,” katanya.
Guna memberikan perlindungan permanen dan memutus rantai penyebaran virus, pemerintah telah memperbarui skema pemberian vaksin. Jika dahulu hanya satu kali, kini anak wajib mendapatkan tiga dosis imunisas, usia 9 bulan, usia 18 bulan, dan kelas 1 sekolah dasar (SD).
Data Dinkes Kaltim menunjukkan ketimpangan pada tiap tahapan. Untuk dosis bayi 9 bulan, capaian baru berada di angka 62 persen dan usia 18 bulan di angka 60 persen.
Akan tetapi, cakupan imunisasi pada anak kelas 1 SD sudah 92 persen.
“Kerja sama dengan pihak sekolah sangat efektif karena edukasi bisa langsung menyentuh orang tua dan guru. Kami berharap pola kesadaran yang sama juga tumbuh pada orang tua yang memiliki bayi dan balita di rumah,” kata Fit.
Masyarakat juga diimbau memperkuat daya tahan tubuh dengan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) sebagai benteng tambahan melawan penyakit menular.
Baca juga: RI perkuat imunisasi karena ada WNA terkena campak
