Samarinda (ANTARA) - Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Timur (Dinkes Kaltim) melakukan pengawalan agar program Makan Bergizi Gratis (MBG) selama bulan suci Ramadhan tetap memenuhi standar kelayakan gizi bagi para penerima manfaat.

"Harapannya, MBG yang disajikan kering ini tetap memenuhi angka kecukupan gizi untuk masing-masing sasaran, seperti anak sekolah jenjang SD hingga SMA, anak PAUD, serta ibu hamil dan menyusui," kata Kepala Seksi Gizi, Kesehatan Kerja dan Olahraga Dinkes Kaltim Kanzul Riyadi di Samarinda, Rabu.

Ia menjelaskan bahwa program pemerintah pusat tersebut terus berjalan dan didistribusikan kepada masyarakat meskipun sebelumnya sempat memunculkan sejumlah pro dan kontra di tengah publik.

Terkait penyesuaian menu saat bulan puasa, Kanzul menilai penyajian makanan kering jauh lebih tepat diaplikasikan, karena memiliki daya tahan yang lebih lama.

Pihaknya menyarankan agar menu yang disajikan menghindari jenis masakan basah, bersantan atau hidangan yang mengandung terlalu banyak minyak goreng.

"Perihal ini bertujuan agar makanan kering yang dibagikan pada siang hari oleh pihak sekolah dipastikan masih berada dalam kondisi layak konsumsi saat waktu berbuka puasa tiba," kata Kanzul.

Dinkes Kaltim juga menekankan pentingnya peran ahli gizi dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) untuk terus mengontrol takaran makanan, kualitas bahan baku, dan ketepatan waktu penyajian.

Baca juga: Anggaran MBG masuk pos pendidikan dinilai sebagai keputusan politik

Menurutnya, pemenuhan nutrisi anak-anak selama menjalani ibadah puasa tentu berbeda dibandingkan hari biasa, karena terdapat jeda waktu makan yang cukup panjang.

Meskipun kebutuhan harian anak berkisar antara 1.800 hingga 2.200 kalori, porsi MBG yang diberikan pada dasarnya hanya dirancang untuk menutupi kebutuhan satu kali makan saja.

"Oleh karena itu, kekurangan asupan kalori maupun nutrisi harian tersebut harus dipenuhi oleh orang tua saat menyajikan hidangan sahur yang bergizi tinggi di rumah," ujar Kanzul.

Ia mengatakan asupan nutrisi yang optimal saat sahur sangat penting untuk menjaga kelancaran sirkulasi oksigen ke otak, sehingga anak tidak mudah mengantuk dan mampu menyerap pelajaran sekolah dengan baik.

Sementara itu, Koordinator SPPG Wilayah Samarinda Haryono memastikan bahwa pihaknya telah menyiapkan penyesuaian metode pendistribusian makanan selama bulan suci Ramadhan ini.

"Kami memutuskan untuk membagikan hidangan dalam bentuk paket makanan tertutup sebagai pengganti wadah makan terbuka atau ompreng yang biasa digunakan pada hari normal," ujarnya.

Kemasan paket tersebut dirancang khusus agar ketahanan makanan tetap terjaga hingga waktu berbuka puasa dengan tetap mengutamakan faktor keamanan konsumsi bagi anak-anak.

Baca juga: Rp1,8 miliar/tahun di dapur MBG disebut pendapatan kotor, bukan laba



Pewarta: Ahmad Rifandi
Editor : Imam Santoso

COPYRIGHT © ANTARA 2026